MISIYEM SALEH, PUTRI MBAH SINGO TINALAN DAN ADIK TOH PRAWIRO YANG MENEPI DI DESA TRANSMIGRAN

Misiyem Saleh binti SINGO

Tulisan ini saya ketik untuk mengenang almarhumah nenek saya yang bernama MISIYEM, isteri dari Almarhum Kopka MOCHAMAD SALEH, kakek saya.

Dari 4 kakek nenek saya, tinggal mbah uti saya ini yang belum ketahuan seluk beluk sejarahnya di catatan saya.

2 Kakek dan 1 nenek saya telah ketahuan silsilahnya, akan tetapi mbah Uti ini saja yang saya rasakan masih minim info tentang keluarga dan silsilahnya.

ASAL MUASAL MBAH MISIYEM

Menurut cerita paman saya, Nenek saya ini berasal dari daerah GURAH, KEDIRI. Tepatnya di desa TINALAN atau disekitarnya, kurang jelas.

Beliau ini adalah hasil pernikahan seorang duda yang beranak 7 dan seorang janda beranak 2. Dari 9 saudara tirinya ini, hanya 1 nama yang bisa saya dapatkan.

Satu nama itu adalah RUSMIYATI. Kami sekeluarga hanya memanggil dengan nama Mbah Krapyak. Maklum saja, beliau simbah ini tinggal di daerah Krapyak, Semarang.

PERNIKAHAN MBAH MISIYEM

Diperkirakan mbah Misiyem ini menikah dengan pemuda Saleh bin KATIRUN atau JURI, sekitar tahun 1945-1947. Pada saat itu Misiyem ikut berdagang orang tuanya ke Makassar, Sulawesi Selatan. Sedangkan pemuda Saleh saat itu bekerja sebagai tentara yang sedang bertugas di Masamba, Sulawesi Selatan.

Diperkirakan MISIYEM pergi ke MAKASAR sekitar tahun 1928 ketika masih gadis dan berangkat bersama kakak RUSMIYATI.

RUMAH TANGGA MBAH MISIYEM

Menurut beberapa anak dari Almh Misiyem, Pribadi bu Misiyem ini adalah pribadi yang keras. Berprinsip kuat. Katakan TIDAK jika tidak katakan YA jika memang iya. Jangan mendustai hati nurani.

Misiyem Saleh adalah pribadi yang sangat nurut kepada sang suami, yakni Mochamad Saleh.

Mereka hijrah ke Pulau Jawa pada tahun 1963, pada saat Gunung Agung Meletus. Beberapa anak menceritakan bahwa pada saat turun dari kapal laut yang tengah berlabuh di Surabaya, suasana langit menghitam. Gelap Gulita. Banyak burung mati karena kelilipan debu gunung Agung.

Batapa beratnya melanjutkan perjalanan dari Pelabuhan berpindah ke kota Malang pada saat Gunung Agung meletus. Ekonomi lumpuh. Banyak hewan mati.

PENSIUN TENTARA PAK SALEH

Pak saleh pensiun dari dinas tentara sekitar tahun 1963

BEKERJA SEBAGAI SOPIR LOKO PABRIK GULA

Selepas pensiun dari tentara, Pak Saleh bekerja sebagai sopir loko di PG KREBET BARU. Beliau bekerja hingga tahun 1973.

TRANSMIGRASI

Pada tahun 1973 Pak Saleh mencoba peruntungan dengan jalan berangkat transmigrasi ke daerah buka lahan baru: BANDAR AGUNG. Beliau berangkat bersama isteri dan anak – anaknya yang masih kecil pada saat itu: SURYANTO, EDI, dan ELI.

ANAK-ANAK MBAH MISIYEM

SURYATMI SALEH

SURYADHI SALEH

SURYONO SALEH

SURYOTO SALEH

SURYATI SALEH

SURYAWAN MANDALA SALEH

SURYANTO SALEH

EDI WINARNO

ELI WARDANA

MAKAM MBAH MISIYEM

MISIYEM SALEH wafat pada tahun 2008 di desa BANDAR AGUNG, Kecamatan TERUSAN NUNYAI ( dulu TERBANGGI BESAR ), Kabupaten LAMPUNG TENGAH.

Beliau meninggalkan anak-anak dan cucu-cucu yang hebat.

yohan Indrawijaya

Share

1 Response

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Post comment