PILKADES DI JAMAN PENJAJAHAN BELANDA

Bagamanakah Pemilihan Kepala Desa pada jaman belanda? Pertanyaan ini sering ditanyakan oleh para warganet milenial ( kelahiran sesudah tahun 2000 )

DEMOKRASI JAMAN BELANDA

Pemilihan Kepala desa pada jaman Belanda ( pada saat itu masih belum ada Republik Indonesia ), menganut hukum demokrasi. Rakyat bebas memilih siapa saja calon kepala Desa mereka.

Berbeda pada Jaman kerajaan, mulai dari Adipati (Bupati), Wedono ( camat / kepala rayon desa ), bahkan Lurah ( kepala desa ) harus berkerabat dengan kerjaan. Maklumlah pada jaman tersebut masih menganut sistim pemerintahab Monarki Absolut.

Negara yang masih menerapkan Monarki Absolut adalah Kerajaan Arab Saudi, yakni negeri dengan pemimpin Raja anak keturunan Saud Al Arabi atau Bani Saud. Kerajaan ini berdiri sebagai kerajaan modern sekitar tahun 1932 an. Walau sejak abad 18 sudah ada kerajaan Saudi ini namun penuh dengan cerita perang dan pasang surut.

Kerajaan Mataram yang ada di Jawa juga memakai prinsip monarki absolut. Adipati dan pejabat yang penting harus dari internal istana. Bahkan seorang kidemang pun terkadang orang pilihan istana dan rakyat semacam dipaksa untuk memilih calon kidemang ini.

Ketika banyak wilayah Jawa yang lepas dari Mataram Islam dan menjadi wilayah Gubernemen Hindia Belanda, maka para kepala desa diambilkan dari pilihan rakyat, dengan harapan jika Ki Lurah adalah orang kepercayaan rakyat, maka dengan sendirinya rakyat juga merasa diperhatikan oleh Ki Lurah, walau dalam kenyataannya tidak demikian.

SYARAT MENJADI SEORANG KEPALA DESA

Pada Jaman kolonial Belanda, untuk menjadi seorang kepala desa, calon Kades harus orang berpengaruh, banyak harta, banyak keluarga, dan berkarisma. Bahkan tidak sedikit seorang kades biasanya memiliki kesaktian.

Tidak jarang pada jaman Belanda terkadang ada persaingan kesaktian, pertikaian warga antar pendukung kepala desa, dan permasalahan lainnya. maklumlah pada jaman itu hukum masih belum ditegakkan dengan kuat. Rawan dilanggar dan rawan dilecehkan. Siapa yang kuat dialah yang menang.

Sering kita mendengar cerita bahwa di sebuah desa memiliki pemimpin desa yang turun temurun semacam kerajaan kecil. Akan tetapi hal ini tidak dipermasalahkan oleh rakyat di desa tersebut karena selama kepala desa tadi memimpin, ia mengayomi dan memperhatikan keperluan rakyat desanya.

REKAMAN PILKADES PADA JAMAN BEANDA

Berikut ini link untuk menonton prosesi Pilkades di sebuah desa di Plosoharang, daerah di Pulau Jawa.

VIDEO ADA DISINI: https://youtu.be/eBMru3SeteY

Video ini milik eyefilm.nl dan saya potong pada bagian pilkadesnya.

0:00 Setiap warga memilih kepala desanya sendiri dengan memilih salah satu dari para calon, yang telah mendaftar ke kantor walikota. Pilkades dilaksanakan di tempat tinggal warga.


0:06 Para pemilih. Perempuan ( juga janda), pemilik tanah juga boleh memilih.


0:25 De patih ( PNS pribumi tertinggi dibawah bupati) menjadi Ketua Panitia Pemilihan Suara, dibantu oleh asisten wedana dan 2 juru tulis. Tampak dibelakang layar ada semacam “kotak suara”. Kotak suara berjumlah sebanyak para kandidat. Pada film ini ceritanya da tiga calon kades dan tentu saja jumlah kotak suaranya tersedia tiga buah pula.

01:04 De stembussen. een pisangstam met drie bamboekookers eropgestoken. Op elken koker staat een takje van verschillende planten. De candidaten hebben eenzelfde takje in de hand als er op hun “stembus” steekt.

(Kotak suara. batang pisang dengan ditancapi tiga keratan bambu di atasnya. Ada cabang tanaman yang berbeda di setiap tabung. Para kandidat memegang ranting yang sama di tangan mereka karena ada di “kotak suara” mereka)

01:34 De drie candidaten voor het burgemeestersambt, elk met zijn “stembus” voor zich. ( (Tiga kandidat untuk kantor walikota, masing-masing dengan “kotak suara” di depannya.)

01:55 Zieher de stembriefjes, stokjes, omdat er onder de kiezers heel wat analphabeten zijn. (Lihat kertas suara, tongkat, karena ada banyak analphabets di antara para pemilih ).

02:10 De verkiezing. De kiezers steken hun stokje in de bus van den candidaat, waarop ze stemmen. De stemming is geheim. (Pemilihan. Para pemilih meletakkan tongkat mereka di bus kandidat, di mana mereka memilih. Mood adalah rahasia ).

03:35 Na de stemming volgt het stemopnemen, bestaande uit het tellen der stokjes in elken koker. (Setelah pemungutan suara, rekaman pemungutan suara berikut, terdiri dari penghitungan batang di setiap tabung)

04:34 De niewgekozen burgervader van de dessa Ploso harang. ( Inilah kades terpilih warga Ploso Arang)

Kantor Kepala Desa PlosoArang, kecamatan Sanan Kulon, Kab Blitar

yohan Indrawijaya

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Post comment