Oleh: Jon ad-Dabruz, mantan pengemis di Semprulnesia.
Pada suatu hari yang panas, seorang pria pengemis mendekati sebuah warung. Di balik kaca, ia memperhatikan orang-orang yang makan di dalam warung itu. Satu persatu ditatap oleh pengemis itu. Ia berharap siapa tahu ada yang berbelas kasihan kepadanya.
Ternyata tidak ada satupun. Mereka semua asik dengan ayam geprek pedas dengan nasi hangat.Mereka semua asik dengan keluarga dan kelompok makan di meja masing masing.
KArena tidak betah menahan lapar maka si pengemis memberanikan diri mendekati perempuan cantik yang tengah keluar warung untuk membuang sampah. Sampah makanan.
“Bu, ada makanan sisa nggak?” tanya pengemis
“Lhoo ini cuman kertas saja mas” kata si perempuan.
“Bu, saya minta sisa makanan pelanggan ibu, boleh kah? saya sudah tiga hari ini belum makan bu. Saya cuman makan sisa roti orang orang di alun-alun bu. Perut saya panas bu”
“Wah kalau sisa makanan langsung kita buang di penampungan sampah makanan mas. Dikumpulkan untuk diambil oleh pemilik peternakan dari desa mas. Maaf ya mas” kata perempuan cantik itu.
“Ooo jadi nggak ada sama sekali ya bu?” tanya pengemis itu memelas.
“Emmm sebentar. Saya mintakan kepada suami saya dulu ya. Sebentar ya mas” kata perempuan itu.
Kartolo, pemilik warung itu sebetulnya sudah lama memperhatikan percakapan isterinya dengan pengemis itu. Nampaknya Kartolo tidak senang jika isterinya itu berbicara dengan orang yang derajatnya jauh dengan dirinya. Masak isteri majikan bercakap-cakap dengan pengemis?
Sementara itu isteri pemilik warung merasa kasihan dengan pengemis. Ia membayangkan bagaimana rasa lapar tiga hari tidak makan nasi. Wah pasti perih rasanya. Maka diapun tergerak untuk memintakan makanan barang sedikit untuk si pengemis ini kepada suaminya.
“Sayangku, didepan ada seorang pengemis minta makanan sisa. Tapi aku kasihan dengan dia. Bagaimana jika kita sedekahkan sedikit saja makanan gratis untuk pengemis itu, sayangku? pinta sang isteri.
Sang suami yang dari awal tidak suka dengan pembicaraan sang isteri, rupanya menolak.
“Tidak perlu, isteriku. Tidak perlu dikasih. Nanti Tuman. Dia masih muda. Seharusnya dia itu bekerja. Lihatlah badannya. Masih sehat. Masih tegap. Pengemis itu kalau sudah ada kekurangan fisik baru kita kasih makanan. Jangan diberi isteriku”
“Tapi apa engkau tidak kasihan, sayangku? lihatlah ! Mukanya pucat”
“Ah sudahlah isteriku. Jangan terpengaruh. Usir saja dia. Dia itu malas sebenarnya. Biar dia mencari makan ditempat lain saja”
“Baiklah sayangku. Biar ku suruh pergi saja dia. Karena perintahmu”
Akhirnya dengan terpaksa perempuan itu meminta kepada pengemis itu untuk pergi dengan tangan hampa.Akan tetapi pria pemilik warung itu tidak tahu jika isterinya menyelipkan beberapa lembar uang tabungan perempuan itu dan diberikan kepada pengemis itu.
“Terima kasih bu. Semoga engkau selalu mendapatkan keberkahan dari Tuhan”
“Aamiin”
Sang pengemis pergi dengan terhuyung-huyung kaliren menahan lapar.
Hari-hari berlalu. Semakin lama usaha warung pria ini semakin sepi. Sang pria pelit ini rupanya telah terjerat minuman keras dan narkoba karena ia menganggap dengan ini ia bisa menenangkan hati dan pikirannya. Wanita yang mencintainya ini muak karena sang pria ini sudah tidak seperti yang dulu lagi. Wanita ini memutuskan untuk bercerai dengan pria yang terpuruk ini.
Dengan sisa sisa tabungannya, perempuan ini bersusah payah bertahan hidup dengan membuat warung sendiri. Memang jalan hidup perempuan ini cuma membuat makanan dan dijual. Keuntungan dari penjualannya untuk bertahan hidup. Kesulitan demi kesulitan ia hadapi. Mulai dari membikin kue keliling, membikin jamu keliling, membikin kerupuk dan kue, hingga warung liar bawah pohon ia lakukan.
Pada suatu hari perempuan ini kedapatan seorang pria yang tampan dan gagah tengah marung di warungnya. Pria ini sangat sopan dan selalu menolak kembalian pembelian makanan dari perempuan ini. Jika makanan yang dibeli pria ini kena 40 ribu, maka pria ini memberi 100 ribu. Selalu seperti itu. Pria ini hampir tiap siang selalu makan siang di warung perempuan ini. Perempuan ini tahu bahwa pria ini selalu membawa mobil MANJERO PROT yang terkenal nyaman dan mahal itu, tapi kenapa selalu makan siang disini?.Perempuan ini selalu bertanya-tanya.
Hingga akhirnya diputuskan bahwa perempuan ini mau dinikahi oleh pria kaya ini. Akan tetapi perempuan ini mengajukan syarat bahwa pria ini harus membuatkan warung ayam geprek yang bagus dan diperbolehkan bersedekah untuk orang peminta-minta.
“Aku mau kau nikahi dengan syarat buatkan aku warung yang bagus untuk aku berjualan ayam geprek. Syarat yang kedua perbolehkan aku bersedekah kepada peminta minta”
“Baik. Syarat pertama kupenuhi. Tapi syarat kedua kuminta kepadamu,engkau boleh bersedekah jika aku tidak ada di sampingmu. Akan tetapi jika aku ada disampingmu ketika diwarung, maka engkau harus meminta ijin kepadaku. Bagaimana? Bisakah?” Pria ini menawar.
“Baiklah” kesepakatan diterima.
Beberapa waktu kemudian, mereka ini sudah menyatu dalam ikatan perkawinan yang sah menurut negara dan agama mereka. warung perempuan ini semakin lama semakin ramai. Pelanggan datang silih berganti, termasuk para peminta-minta. Mungkin usaha warung ini semakin besar karena do’a mulia orang-orang yang lapar dan yang telah tertolong oleh hangatnya nasi dan pedasnya ayam geprek perempuan ini.
Pada suatu siang, ada seorang pengemis datang dengan terhuyung huyung. Ia menunggu di depan warung perempuan ini. Seperti biasa perempuan ini menghampiri siapa saja pengemis maupun fakir yang meminta belas kasihan makanan gratisnya.
“Bu, minta belas kasihannya bu. Saya sudah empat hari tidak makan” pinta pengemis.
Perempuan ini merasa kasihan dengan kalimat pengemis ini. Pengemis ini sepertinya tidak terurus. Bajunya kotor. rambutnya awut awutan. Dan seperti ada semacam pernah terserang stroke dilihat dari cara berbicaranya.
“Sebentar pak” jawab perempuan itu sambil meninggalkan pengemis itu.
Pada saat yang sama, pria kaya suami perempuan ini memperhatikan pengemis itu tengah berbicara dengan isterinya. Ia pria ini sepertinya terharu dengan adegan pengemis itu memohon kepada isterinya.
Karena suaminya ada diwarung, maka perempuan ini harus ijin untuk mensedekahkan barang dagangan makanan nya kepada suaminya.
“Sayangku, bolehkah aku memberi makanan satu porsi ayam geprek kepada pengemis itu?” pinta perempuan itu kepada suaminya sambil menangis.
“Kenapa engkau menangis isteriku? apakah pengemis itu menjahatimu?”
“Tidak”
“Baiklah. Berikan dia 3 porsi. Biar dia bisa makan lagi nanti malam dan besok pagi.”
“Alhamdulillah ( Puji Tuhan ). Terima kasih suamiku”
“Dan jangan lupa berikan dia 5 lembar uang 100 ribu. Ambilkan di laci kasir”
Perempuan itu kaget. Ia menangis karena betapa mulianya hati suaminya. Sudah memberi lebih makanan, malah di beri uang segitu banyak.
Perempuan itu menghampiri pengemis yang telah menunggu tadi dengan menangis.
Mengetahui perempuan itu memberikan 3 foam ayam geprek dan uang 500 ribu, pengemis itu terperanjat. Ia kaget. Ia tersimpuh di depan warung.Menangis terharu. Belum pernah ia mengemis mendapatkan uang lebih-lebih dari biasanya.
“Terima kasih bu. Saya jadi teringat isteri saya dulu yang saya sia-sia kan…hingga saya lupa nama dan wajahnya..” ucap pengemis itu sambil terbata-bata.
Pengemis itu pergi. Tapi perempuan itu masih menangis didepan warung. Tangis itu terhenti setelah suaminya menghampiri dan menghiburnya.
Beberapa jam setelah kejadian itu, warung telah sepi. Pengunjung mulai berkurang. warung segera ditutup untuk berjuang lagi di esok hari. Pria ini duduk berdua bersama isterinya yang barusan terguncang karena pengemis tadi siang. Mereka berdua sekarang di loteng balkon ruko.
“Wahai cintaku, kenapa sih kok kamu menangis tersedu-sedu?”
“Begini sayangku. Pengemis yang datang kepadaku itu adalah pria yang pernah menikahiku sepuluh tahun lalu. Dia adalah Kartolo. Aku dulu sangat mencintainya. Karena dia egois dan pelit, maka perlahan-lahan cintaku pudar. KArena ia semakin tidak mau mendengar nasehat dari siapapun termasuk dari agamanya, maka kuputuskan untuk bercerai darinya. Selanjutnya aku menjalani hidup sendiri dengan segala kepahitan, penderitaan dan sedikit rasa manis. Temanku hanya ALLAH dan ajaran agamaku. Siang tadi aku dipertemukan olehnya tapi dengan keadaaan yang sangat berbeda. Dulu dia selalu berkata derajat,derajat, dan derajat, tapi sekarang ia telah berada di derajat yang dia tidak menyangkanya” Perempuan ini menangis lagi teringat kejadian siang tadi.
“Dunia ya begitu itu, isteriku”. Kata pria kaya ini. Pria ini berkata lagi:
“Dulu aku juga mengemis.”
“Betulkah suamiku?”
“Ya. Aku lakukan ini karena semua hartaku hilang terampas oleh saudara-saudaraku. Aku sendirian. Hingga aku bingung dan apa yang harus kulakukan. Akhirnya ada seseorang yang menyuruhku untuk jadi pengemis saja”.
“Jadi engkau dulu adalah pengemis?” tanya sang isteri. Tangisannya terhenti.
“Benar isteriku”. “Profesiku ini kutinggalkan karena pada suatu hari yang sangat melaparkan, aku meminta nasi sisa orang-orang yang makan disebuah warung. Pemilik warung tidak memberiku makanan itu karena dia bilang nasinya sudah dibuang untuk makanan babi” kata pria ini. Ia meneruskan:
“Akan tetapi isterinya yang cantik itu malah memberiku uang sembari berkata”Ini uangku pribadi.Pakailah untuk bertahan hidup. Jangan diperlihatkan kepada suamiku, nanti dirampas”. Demikianlah, hai isteriku” kata pria ini.
Sang isteri tentu saja kaget. Ia seperti pernah teringat kejadian ini
“Jika aku boleh tahu, berapakah uang itu hai suamiku?” tanya sang isteri.
“365 ribu. 7 lembar 50 ribu, 1 lembar 10 ribu dan 1 lembar 5 ribuan”
Perempuan itu semakin kaget. Ditatapnya dalam-dalam pria yang ada disampingnya. Suaminya kini.
“Jadi Engkau…?” perempuan itu sangat heran
“Ya. Akulah pengemis itu. Sejak engkau memberiku uang itu, aku seperti terlahir kembali. Uangmu yang 5 ribu kupakai untuk beli sabun dan memotong rambut. Uangmu yang 10 ribu kupakai untuk beli sandal dan baju bekas. Uangmu yang 300 ribu kupakai untuk kulakan asesoris jepit rambut, perabot plastik dan mainan anak-anak. Sedangkan yang 50 ribu kupakai untuk cadangan” cerita pria kaya itu sambil matanya mulai berkaca-kaca
“Jadi..? Sekarang kenapa engkau…? Tanya isterinya mulai sesenggukan
“Ya.Uangmu kuputar dan kuputar. Aku berjuang siang malam sambil berdo’a kepada ALLAH semoga aku bisa bertemu dan berterima kasih dengan perempuan yang telah mengorbankan hartanya itu.Ya kamu ini. Hingga aku sukses dan usahaku menjadi besar, aku masih mencarimu. Aku bersyukur telah menemukanmu dalam keadaan yang tengah susah pada tahun lalu. Kupikir engkau hafal dengan wajahku. Ternyata tidak. Jadi aku diam saja. Kalau aku tentu masih ingat wajahmu 10 tahun lalu. Wajahmu sangat cantik dan hatimu sangat mulia. Ketika aku menemukanmu, wajahmu sangat berbeda. Pakaianmu juga tidak seperti yang dulu. Kulihat gurat kelelahan yang dalam, derita yang amat sangat”
“Kenapa aku bisa jadi seperti ini? Ya. Karena dengan semangat pengorbananmu lah aku berjuang. Jangan sampai uang hasil pengorbananmu sia sia. Aku sendiri tidak menyangka kenapa usahaku selancar dan sehebat ini. Maka sudah sepantasnya aku membalasmu dengan menghadiahimu dengan ikatan perkawinan ini, isteriku” kata pria ini sambil mengecup kening isterinya.
“Andaikata engkau tetap menjadi milik orangpun, aku tetap akan menganggap engkau adalah saudariku. Berhubung engkau mengalami nasib seperti ini, maka aku memberanikan diri untuk menikahimu” Ungkap pria ini.
“Terima kasih, ya ALLAH. Engkau telah memberiku kenikmatan dan hikmah” kata perempuan ini disela sela tangisan sambil menengadahkan tangan.
“Aamiin” suaminya ikutan mendoakan.
Tiba tiba terdengar suara “BRUAKKK” di perempatan di depan warung mereka. Mereka berdua kaget. Mereka mencari tahu sumber suara. Diketahui ada seseorang tertabrak mobil box. Pria itu tewas. Tertabrak. Mengenaskan.
“Seorang pengemis tewas dengan botol minuman keras ditangannya, nasi ayam geprek berserakan, dan uang ratusan ribu berserakan di sebelahnya” kata sebuah sumber.
Ternyata Kartolo, mantan suami perempuan itu berakhir malam ini. Kartolo mendapatkan uang cukup untuk membeli minuman kesukaannya untuk merasakan nikmatnya mabuk. Sementara Perempuan mantan isterinya ini mengalami sedih yang mendalam sambil menagis di pangkuan suaminya yang sekarang, mantan pengemis yang diberinya uang…….
Sementara Pria kaya ini hanya terdiam dan terpaku sambil sesekali menghisap rokoknya di balkon Ruko. Mengingat kejadian ajaib antara ia, isterinya dan Kartolo…
