Oleh: Nugroho Sahaja, peneliti penerbangan di Batam.
Rabu, 16 Januari 2002, pesawat Boeing 737-300 Garuda Indonesia nomer penerbangan GA-421 mendarat darurat di Sungai Bengawan Solo.Lokasi pendaratan pesawat tersebut berada di desa Serenan, desa yang terkenal sebagai penghasil ukiran di Klaten. Kala itu, pesawat terbang dari Ampenan (Mataram) dengan tujuan Jogja.
Pesawat Boeing 737-300 Garuda Indonesia GA421 yang dipiloti Abdul Rozaq dan co-pilot Haryadi tersebut tiba-tiba kehilangan daya dorong akibat kedua mesin jetnya mati lantaran terkena badai es saat menembus awan kumulonimbus.

Diberitakan bahwa pesawat kemudian meluncur tanpa mesin dari ketinggian sekitar 23.000 kaki. Dalam insiden itu seorang pramugari, Santi Anggraini, 26thn meninggal dunia. Sementara 54 penumpang dan empat awak lainnya selamat, meski mengalami luka-luka.
“Saat itu cuaca tidak bagus, kabut menyelimuti pesawat sekitar 10 menit,” kata Pastril Wahid, salah satu saksi yang selamat dalam kejadian itu.
Kecelakaan tersebut mendapat sorotan dunia internasional terutama Amerika Serikat selaku produsen pesawat, BOEING.
………………………………………………………………… Setelah 18 taun berlalu………………
SETELAH 18 TAHUN BERLALU
Pagi itu didalam bandara Adi Sucipto Jogja, panggilan penumpang pesawat garuda GA378 tujuan Batam telah diberitakan.
Mbah Rarmi terlihat panik dan kebingungan karena kakinya sulit digerakkan. Akan tetapi banyak lalu lalang petugas tapi tidak ada yg perduli, karena memang mbah Ratmi memang tidak mau bertanya. Ternyata penyakit asam urat mbah ratmi kambuh, kakinya nyeri terlihat bengkak dan keras, sehingga mbah ratmi tidak bisa jalan. Padahal panggilan untuk segena naik ke pesawat telah terdengar lagi.
“Duh, Gusti Allah kulo nyuwun tulung,” (ya Allah tolong saya) terdengar mbah Ratmi memohon. Mbah Ratmi mengadahkan tangannya dan menghadapkan wajahnya keatas seperti memohon pertolongan. Simbah tahu ia tidak kuat untuk menuju ke pesawat karena kakinya terasa berat, sementara para penumpang yang lain sibuk dengan urusannya sendiri-sendiri.
Pada saat yg bersamaan, seorang pramugari membawa kursi roda menghampiri mbah Ratmi, dan tanpa bertanya pramugari itu langsung memapah mbah Ratmi, dan mendudukkannya ke kursi roda. Terlihat pramugari itu begitu cekatan tanpa kesulitan, mungkin karena sudah senior.
Ternyata mbah Ratmi adalah penumpang terakhir yg masuk pesawat. Karena kursi roda tidak bisa masuk ke koridor pesawat, maka pramugari itu lantas menggendong mbah Ratmi, menuju nomor kursi yg tetulis ditiket pesawat. Beberapa penumpang lainnya sempat mengabadikan kejadian itu melalui HP android nya.
MATUR NUWUN YA NDUK
“Matur nuwun ya nduk. Simbah ini lha kok tiba –tiba asam- uratnya kambuh. E alah jadi ngerepoti sampeyan” kata mbah Ratni.
“Ohh ndak papa mbok, saya sudah terbiasa bekerja begini” kata pramugari cantik yang baik hati ini.
Setelah ngobrol beberapa kalimat, sebentar kemudian pramugari itu pamit kepada mbah Ratmi. Mbah Ratni sempat membaca tulisan pada nama dada ( BADGE NAME) si pramugari. Terlihat di badge name tertulis SANTI ANGGRAINI.
“Nanti kita bertemu lagi mbok. Assalamualaikum ” kata pramugari itu lalu pergi.
Ke-empat pramugari pesawat saling bertatap mata dan bertanya, siapa yg menggendong mbah Ratmi ke tempat duduknya.? Karena melihat uniformnya itu bukan seragam pramugari penerbangan pesawat itu, seragam itu model pramugari belasan tahun yg lalu. Dan anehnya setelah ditunggu dan dicari kesemua tempat dan sudut pesawat, pramugari itu tidak ditemukan.
Dua pramugari lalu mendekati mbah Ratmi dan menanyakan siapa yg tadi menggendong nya.
“Mbah. Permisi. Tadi mbak yang menggendong penjengan tadi kemana ya mbah?” tanya pramugari
“Lho, saya nggak tahu nduk. Barusan pamitan melanjutkan ngeladeni penumpang lainnya toh?”
“oo.. oh iya mbah, mbah tadi sempat tahu nggak, siapa nama mbak tadi itu?”
“Bukankah itu pramugari teman sampeyan semua di pesawat ini, namanya Santi Anggareni” Mbah Ratni menjawab
SIAPA SANTI ANGGRAINI?
Kedua pramugari itu kaget. Mereka saling pandang seakan tak percaya dengan apa yg didengar.
“Kamu kenal nggak, Chint. Siapa Santi Anggraini tadi?” Tanya pramugari Febrianti
“Nggak, Feb. Semacam bukan kelompok terbang kita ya?” jawab Pramugari Chintia
“Ihh….. Siapa ya?” Kata Febrianti seperti ketakutan.
“Nggak tau Feb. Ah sudah lah. Udah mau terbang nih”
Ke-esokan harinya tersiar kabar heboh jika penerbangan kemarin itu ada kejadian heroik, Pramugari yang telah tiada beberapa taun lalu itu tiba-tiba menolong seorang nenek Ratmi, sampai si Nenek ini di wawancara di TV WAN dan acara talk Show KICK ANJIR.
Dan yang heboh lagi, beberapa saksi mata yang merekam kejadian heroik itu tidak ada satupun file berhasil merekamnya. File nya ada tapi isinya hanya 0MB alias kosong. Tercatat ada 5 orang saksi yang mencoba merekam. 3 orang mencoba memfoto. Tidak ada 1 file pun yang berhasil di rekam dan simpan.
Santi Anggareni sangat dikenal dikalangan pramugari Garuda, Karena Santi Anggareni adalah pramugari korban tunggal GA421 didesa serenan 18taun yg lalu.
Diceritakan bahwa Ketika buntut pesawat tertabrak benda keras, maka buntut pesawat pecah dan bolong. Karena beda tekanan antara kabin pesawat dan udara bebas, maka terjadi hisapan luwar biasa. Sampai sampai baju dan stokingnya terlepas karena hisapan kuat tersebut. Santi mencelat dan terbawa arus sungai. Diketemukan oleh warga dalam keadaan tanpa busana dan tentu saja sulit untuk mengidentifikasi. Untungnya segera bisa diidentifikasi dengan kecelakaan pesawat karena mereka menyatakan kehilangan pramugari-nya.
Kususon alfatihah buat santi anggareni (Semoga Husnul kotimah)
Sekarang bandara jogja pindah ke kulon progo, jadi jangan berharap ingin digendong nya…
