Oleh: Jon ad-Dabruz, Karyawan Pabrik Pemanis Kopi di Semprulnesia.
PIKINIK KE KONDANG MACAN
Pada suatu hari, aku bersama dengan rombonganku, para pekerja PT REMBEZ BARU di MalangKarto, Semprulnesia sedang piknik pakai sepeda motor. Kami menuju ke satu titik : yakni wisata ke PANTAI KONDANG MACAN.
Kebetulan rombongan ini berjumlah sekitar 10 orang. Semua adalah satu kelompok kerja di seksi yang sama.Entah kenapa, tiba tiba motor yang kutunggangi mengalami ban gembos. Terpaksa aku ditinggal oleh rombongan.
Tempat tambal ban adalah jadi satu dengan sebuah warung kecil. Di plakat warung tersebut ada tertulis menjual kopi, teh, mie instan, nasi goreng. Nampaknya warung sederhana.
Karena lapar, maka sembari menunggu ban selesai, aku pergi ke warung sebelah tersebut.
“Pakde, kopinya ada?” tanyaku ke penjaga warung
“Oh, ada dek”
“Kopi Hitam, Satu gelas pakde. Gulanya sedikit saja”
“Siyaap”
Dengan sigap, kopi itu disiapkan oleh pria tua penjaga warung ini.
“Niki dek” kata pak tua itu sembari menyuguhkan kopi didepanku.
“Matur Nuwun”
LUKISAN MENARIK
Pak Tua undur diri. Ke belakang warung.Sementara aku menikmati kopi, kulayangkan pandangan ke sekitar warung kopi. Disitu ada gambar yang menarik perhatianku: Lukisan tangan berisi gambar perempuan Jawa. Cantik. Dengan sanggul dan kebaya warna hijau. Nampak dibelakang kepala perempuan itu seperti ada gambar aura dikepalanya. Bersinar.
Perempuan itu nampak tersenyum tapi dengan tatap mata tajam.Akan tetapi yang membikin aku heran adalah kenapa ada gambar kereta kencana dibelakangnya? Apakah ini lukisan putri keraton? Atau ratu Jawa? Belum lagi di sisi yang lain, nampak ada gambar pulau kecil dengan bangunan tradisional di daerah pantai Bale Kambang. Apa maksudnya ya?Belum selesai heranku, pak tua itu muncul dari dapur menuju luar warung.Akan tetapi tiba-tiba ia berhenti ketika mengetahui aku mengamati lukisan di dalam warungnya. Ia duduk menunggu di sisi dalam warung.
“emmm…pakde. Numpang tanya boleh?” tanyaku
“Boleh” kata pria tua
” Itu di dinding lukisan siapa ya pakde?”
Pria itu tidak segera menjawab. Ia mengamatiku dalam-dalam. Beberapa saat kemudian, ia berkata:
“Perempuan dalam lukisan itu adalah penolongku saat kecelakaan laut 5 tahun yang lalu”
“O ya?”
“Iya. Dia lah yang menyelamatkan nyawaku sendirian. Teman-temanku yang lain tidak bisa ditolong”
“Kecelakaan laut gimana, pakde?”
BEGINI CERITANYA
“Pada saat ombak laut ganas, perahuku pecah diterjang ombak. Semua muatan kapal musnah seperti barang dagangan, ikan, dan alat-alat kerja lainnya”
“Memang tidak ada peringatan bahaya melaut ya pakde?”
“Ada sih. Dari Dinas Kelautan. Akan tetapi saat itu adalah masa-masa sulit. Disatu sisi kami sudah berhari-hari tidak bisa melaut karena ombak ganas, disatu sisi kebutuhan hidup harus dipenuhi. Kami nekat melaut”
“Oooo begitu ya?”
“Ya. Kami melanggar peraturan. Jadinya ya rugi sendiri”
Aku masih bingung menghubungkan lukisan dengan pelanggaran melaut ini.
“Lha terus ada hubungan apa dengan lukisan itu pakde?” tanyaku penasaran.
Pak tua ini tidak segera menjawab. Dikeluarkannya bungkusan rokok kretek dari saku bajunya. Dinyalakan rokoknya. Selanjutnya percakapan dilanjutkan.
“Ketika kapal pecah, aku sempat mengapung-apung dilautan berpegangan gabus/foam tempat tangkapan ikan. Teman-temanku entah kemana. Saat itu tengah malam gelap. Suara angin sangat kencang. Aku berteriak-teriak menyebut nama-nama teman satu kapalku satu-persatu. Tidak ada yang menyahut. Mungkin kalah suara dengan suara ribut angin dimalam itu.
Pria ini menghisap rokoknya. Dikeluarkan asapnya dari lobang hidungnya.
” Dalam keputus asaanku karena lama terapung-apung, tiba-tiba terdengar suara gemericik dan derap langkap kaki kuda seperti suara kereta kuda dan ringkikan kuda. Aku heran. Apa aku berhalusinasi karena kecapekan akibat pecah kapal?. Semakin lama suara itu semakin jelas terdengar hingga tiba tiba nampak olehku sebuah kereta kuda megah dengan 4 kuda gagah didepannya menarik sebuah kereta yang seperti terbuat dari emas. Mengkilap banget. Lebih bagus dari kereta kerajaan manapun didunia.”
Pria ini menatap lukisan didinding ini sambil menghisap rokoknya lagi.
” Kereta kencono itu berhenti tepat di hadapanku. Aku ketakutan, terheran-heran, kenapa bisa ada sebuah kereta kuda di tengah laut? Sementara laut ini nampak gelap sekali. Belum habis rasa heranku, kereta itu pintunya terbuka dengan sendirinya. Ada cahaya menyala dari dalam. Beberapa saat keluarlah perempuan sangat cantik dari dalam kereta itu. Sangat cantik, dek. Mungkin paling cantik sedunia ini”
PAHANYA MULUS
Pria ini masih menatap lukisan itu.
“Perempuan itu mendekatiku. Wangi sekali baunya. Seperti melati dan gabungan bunga-bunga terharum lainnya. Aku sempat melihat pahanya yang mulus. Wiih, puuutih banget dek. Bikin pria gak kuat. Tapi berhubung posisiku ketakutan, maka perasaan nafsu syahwatku menjadi hilang. Dalam keadaan berdiri dipermukaan air laut, ia menatapku dalam-dalam. Tatapan matanya mengerikan. Aku sangat takut. Sepertinya aku akan mati malam itu. Tersadar akan hal ini, maka kuputuskan untuk menunduk saja. Tatapan matanya mengerikan, walaupun wajahnya terlihat sangat cantik”
Penasaran dengan ceritanya, aku menyerobot bertanya:
“Apa itu Nyai Roro Kidul, pakde?” tanyaku.
“Tidak jelas. Karena ada banyak nama penguasa laut selatan. Ada Nyi Ratu Kidul, ada Nyai Roro Kidul, ada Nyi Blorong. Aku tidak bisa mengatakan itu siapa” jawab pria tua itu.
“Selanjutnya gimana pakde?” tanyaku lagi
“Aku mengatakan padanya untuk meminta tolong menyelamatkan nyawaku. Posisiku terjepit. Perempuan itu mengatakan kepadaku:”Bukankah kamu punya Pengeran ( Tuhan ) yang menolong disaat seperti ini?”
Karena aku membutuhkan bantuan, maka dengan terpaksa aku berbohong
“Aku tidak percaya Pengeran. Permintaanku tidak pernah dituruti. Aku tetap saja miskin dan susah. Malah kali ini aku tidak ditolongNYA”
“Siapa namamu?” tanya perempuan itu
“Hamba bernama Juki, Nyai” Jawabku. Nyai adalah panggilan hormat kepada tokoh perempuan.
” Hei Juki, Benar kamu tidak percaya Pengeran?” tanya perempuan itu
“Benar Nyai” kataku berbohong.
“Baiklah. Kamu akan kutolong dengan syarat”
“Apa syarat itu, nyai?”
KAMU HARUS MENYEMBAHKU
“Kamu harus menyembahku”
“Bagaimana caranya nyai?”
“Kamu jangan merusak lingkungan laut selatan. Kamu mencari makan disini kan?. Kamu harus selalu mengingatku jika kamu melaut. Kamu harus selalu memujiku disaat ditengah laut. Mintakan pertolongan dan kemudahan dalam mencari ikan kepadaku. Kamu harus mengatakan kalimat permisi kepadaku karena ini adalah lautku. Dan kamu harus menghormati acara tahunanku. Jangan diganggu dan kamu harus ikut meramaikan. Bagaimana?”
“Saya bersedia nyai” kataku
“Satu hal: Jika kamu melanggar perjanjian ini, maka arwahmu akan kuambil untuk kujadikan budakku selama-lamanya.Percuma kamu mencoba lari karena kamu sudah tidak memiliki Pengeran” kata perempuan itu
“Saya paham nyai”kataku
Tiba-tiba perempuan cantik itu menghentakkan kakinya dipermukaan laut. Seketika ada ombak besar menimpa dan menghantam wajahku. Aku terlepas dari pegangan gabus foam tempat ikan. Aku tenggelam. Selanjutnya gelap.
Pria ini menunduk sambil menghisap rokonya.
“Tiba-tiba aku ada dipinggir bibir pantai. Aku ditemukan oleh warga tepi pantai. Ketika siuman, aku tidak memiliki apa apa. Aku telanjang. Baju dan dompetku raib. Padahal saat aku mengalami malam mengerikan itu, aku masih pakai baju dan dompetku masih ada”
“Aku dirawat oleh warga desa sini. Konon katanya aku adalah korban selamat dari sebuah kapal hilang empat hari yang lalu. Akan tetapi banyak yang membantahkan karena ada berita di TV bahwa empat penumpangnya tewas semua. Sebetulnya kami berlima. Akan tetapi orang yang kelima tidak didaftarkan dalam manifes kapal. Jadinya dianggap tidak ada kru kapal yang hilang. Akan tetapi warga sini seperti merahasiakan berita ini kepada orang luar. Mereka tidak mau bercerita kepada orang luar karena dikatakan jika aku telah “ditandai” menurut orang sini”.
“Jadi sampeyan menuruti permintaan nyai itu pakde?” tanyaku.
“4 tahun pertama aku mengikuti perjanjian itu. Tapi setelah kupikir-pikir, berarti aku menjadi penyembah nyai. Aku gak mau. Akhirnya kucari cara bagaimana aku bisa terlepas dari perjanjian dengan setan itu. Kutanyakan kepada orang pintar soal ini. Kudapat jawaban bahwa aku tidak boleh melaut lagi. Tidak boleh terkena air laut selatan. Dari situ akhirnya aku bersyahadat lagi, walaupun bayang-bayang pelanggaran perjanjian masih ada”
“Jadi sampeyan sudah tidak melaut lagi pakde?” tanyaku
“Tidak. Setahun ini aku tidak melaut. Aku menjauh dari laut. Setahun ini aku tidak ikut acara suguh laut.Mendingan bikin warkop saja. Simpel”
Tiba tiba dari luar ada suara agak keras mengatakan kalau tambal ban telah selesai.
“Mas tambal ban nya sudah selesai” teriak suara dari luar warung.
Akhirnya aku pamit kepada pria penjaga warung kopi itu dan mengucapkan terima kasih kepada penambal ban. Perjalanan kulanjutkan kembali.
……………………
5 TAHUN KEMUDIAN
5 tahun kemudian aku ke laut selatan lagi. Kali ini aku bersama romongan keluargaku. Aku teringat dengan pria penjaga warkop itu. Akhirnya kuputuskan untuk istirahat sebentar di warkopnya pak tua.
Mobil kuhentikan di depan warungnya. Akan tetapi kok tutup? Aku segera turun untuk memastikan.
“Pakde penjaga warkop ini kemana pak?” tanyaku kepada tukang tambal ban sebelahnya
“Ooo orangnya sudah mati mas” kata penambal ban
DEG. Jantung ini seperti berhenti sebentar. Kaget.
“Lho kapan wafatnya pakde?” Tanyaku penasaran.
“4 tahun lalu”. Berarti dia meninggal setahun setelah percakapanku dengan dia.
“Dia mati karena terseret ombak yang tiba-tiba datang tak terduga. Ia sebenarnya bercerita kalau tidak mau menyentuh air laut lagi. Tapi karena diminta untuk memandu turis ke pantai BANYU KANGKUNG dengan iming-iming rupiah besar, maka ia menuruti ajakan itu”
“Terus meninggal di pantai itu ya pakde?”
“Ya. Pantai disitu berombak ganas. Tapi sebetulnya cak Juki tidak menyentuh air laut. Kakinya saja yang menginjak bibir pantai. Tapi ya gitu, tiba- tiba mendadak ada ombak besar seperti “air yang bangun” terus mencaplok cak Juki. Yang aneh ombak itu hanya mencaplok cak Juki saja.” Kata penambal ban terheran-heran.
Selesai mendengar penjelasan penambal ban itu, aku terus pamit meneruskan perjalanan.
Setelah tiba di pantai. Aku langsung hilang selera untuk mandi air laut. Aku menjauh. Hanya anak dan isteriku yang bermain-main di bibir pantai. Aku jadi teringat cerita pak Juki penunggu warkop yang mengingkari janji kepada penguasa laut kidul.
Mungkin karena pak Juki telah ditandai, maka begitu tahu dia konek dengan air laut, maka segera saja si pelanggar perjanjian ini ditindak lanjut.
Wallahu a’lam bis showab. wassalam.
