HIJAB: JILBAB DAN KERUDUNG?

Oleh: Jon Ad Dabruzz

MULAI BACA

TWEET UST. FELIX

Hari hari ini markizen diramaikan dengan soal jilbab dan perdebatan soal jilbab bagi muslimah ( perempuan muslim). Seorang pencerah, sebut saja Ust.Felix Siaw men tweet sebuah postingan dengan tulisan: NGGAK MAU BERHIJAB SILAKAN SAJA, TAPI NGOMONG “HIJAB ITU NGGAK WAJIB BAGI MUSLIMAH”, ITU PERNYATAAN YANG MAKSA BANGET, UDAH MAKSIAT, MAKSA LAGI.

Rupanya twitan pak Felix ini seperti menyindir bu Nyai Sinta Nuriyah Wahid, isteri dari Mbah Kyai Haji Abdurrahman Wahid alias GUSDUR. Gusdur sendiri adalah presiden RI yang ke-4, menggantikan pak Prof. Dr.Ing. B.J Habibie.

DISKUSI INI BISA PANJANG

Tentu saja cuitan ini banyak memperoleh tanggapan dan sanggahan serta menjadi viral di media sosial. Berangkat dari situ, maka saya penasaran. Ini kenapa sih?

Mari kita kupas. Aurat itu wajib ditutup. Yang menjadi persoalan pokok adalah apa batasan aurat bagi perempuan itu? Apakah rambut, leher dan telinga itu termasuk aurat yang wajib ditutup atau tidak? Diskusinya bisa panjang, dan saya kira sudah banyak ulama dan cendekiawan yang mendiskusikannya

Ketiga mazhab (Hanafi, Maliki dan Imam Syafi’i dalam satu qaul) mengatakan wajah dan telapak tangan bukan termasuk aurat (artinya boleh dibuka sesuai dengan frase illa ma zhahara minha. Yang dimaksud dengan apa yang biasa tampak itu adalah apa yang sudah biasa secara tradisi (adat) untuk kelihatan. Itu sebabnya diriwayatkan dari Imam Abu Hanifah bahwa telapak kaki itu juga bukan termasuk aurat.

Lho kenapa? Itu karena kesulitan yang timbul dari menutup kedua telapak kaki itu lebih berat ketimbang menutup kedua telapak tangan, khususnya untuk mereka yang di pedesaan. Imam Abu Hanifah tinggal di Kufah, dimana perempuan biasa bekerja. Ini berbeda dengan situasi di kota lain saat itu. Maka adat dan hajat bergeser dan berbeda dari satu kota ke kota lainnya.

Bahkan Imam Abu Yusuf, seorang murid senior Imam Abu Hanifah dan Ketua Mahkamah Agung di masa Khalifah Harun ar-Rasyid, berpendapat lebih jauh lagi, yaitu lengan perempuan pun bukan termasuk aurat karena menutupinya akan menimbulkan kesulitan (haraj). Tambahan, dalam kitab Syarh Fathul Qadir, disebutkan juga bahwa Imam Abu Yusuf mentolerir untuk membuka separuh dari betis.

Jadi kalau anda melihat perempuan pakai jilbab tapi tangannya kelihatan atau separuh betisnya juga kelihatan, jangan buru-buru dimarahin yaaah. Boleh jadi mereka pakai pendapat Imam Abu Yusuf. Sumber: dokter salafi.

GIMANA SIH PAKAIAN ORANG ARAB AWAL 1900-AN?

Gimana sih pakaian perempuan arab jaman dulu? setelah saya cari, ketemu yang lumayan pantas di pinterest.com dapatnya seperti ini:

wanita arab sekitar awal 1900 an. bisa dibayangkan bagaimana tahun tahun sebelumnya. Pinterest.com

Dan saya cari lagi bagaimana sih foto muslimah jazirah arab jaman dahulu , saya nemu foto perempuan jazirah arab hingga afrika utara, sekitar awal era 1900. Kemudian saya nemu lagi foto perempuan Palestina. Yang satu dengan busana resmi kondangan, yang satu berbaju harian. Kemudian perempuan Assyria, Aljazair, dan perempuan Libya. Ingat! Foto tidak mewakili semua penduduk suatu bangsa. Bisa salah bisa benar.

perempuan arab sebelum 1900

Apakah kerajaan saudi juga mengharuskan keluarga kerajaannya memakai pakaian wajib syar’i? Nah ini yang harus kita teliti. Tapi yang saya tahu, salah satu anggota kerajaan saudi ada juga yang tidak berhijab, yakni Putri Amira Al Taweel. walaupun berposisi menantu dari pada saat itu ( ia adalah isteri dari pangeran Al walid bin Talal bin Abdul Aziz ) tapi kita bisa tahu bahwa dalam keluarga besar kerajaan saudi boleh tidak berhijab .

<KEMBALI>

BAGAIMANA DENGAN MUSLIMAT INDONESIA?

Bagaimana dengan Muslimah Indonesia? Muslimah jaman pra kemerdekaan ya memakai busana tidak seperti yang tertutup tutup amat. Bukan tidak mungkin ketika era kolonial Belanda mulai 1600 hingga 1800 akhir ya berpakaian seperti itu. Bicara Indonesia, berarti bicara keanekaragaman suku disana. Kita tidak bisa mengatakan perempuan Indonesia berbaju syari’ah tapi yang diambil gambar adalah contoh gambar yang sangat tidak umum. Tetapi kita juga tidak bisa mengatakan bahwa perempuan muslimah Indonesia tidak berhijab seperti yang diinginkan oleh pak Felix. Indonesia ini beragam boss.

Apakah isteri para ulama dulu juga berhijab? Nah ini pertanyaan yang harus berhati hati dalam menjawab. Setahu saya, sejak saya lahir hingga dewasa ini, bu nyai menggunakan Dress Code ya itu itu saja. Bersahaja namun elegan. Walau menggunakan kerudung yang terkadang rambut nya kelihatan, tapi masih enak di lihat tuh? Yo gak ada pikiran nafsu .Apa karena saya masih kecil ya?.He he he. Ketika era 80an memakai kerudung. Ketika 2000 hingga dewasa ini rata rata menggunakan jilbab. Saya menduga sepertinya gaya baju selalu mengikuti fashion style di suatu daerah tersebut. Bahkan keluarga dari Mbah Kyai wahab Chasbullah, ulama kharismatik Indonesia era sebelum kemerdekaan, juga masih menggunakan kerudung. Seperti foto dibawah ini.

Bahkan pada era awal berdirinya Muhammadiyah pun, isteri dari mbah KH Ahmad Dahlan dan Buya HAMKA juga masih berbaju tradisional Indonesia. Juga isteri dari pak Dr. Amien Rais pun sama.

Prof DR Amien Rais saat manten baru dan saat era 2010

Saya masih ingat di era 80 an, muslimah indonesia masih jarang yang menggunakan jilbab. Masih menggunakan kerudung. Bahkan sarjana baru lulusan ilmu Al Qur’an pun masih menggunakan kerudung.

MAKSIAT YANG MANA NIH?

SUDAH MAKSIAT, MAKSA”. Saya akhirnya bertanya tanya, “MAKSIAT” disini yang mana ya? apakah bu nyai para isteri ulama besar ini melakukan maksiat? Jika maksiat kenapa suaminya kok membiarkan? Atau maksiat disini adalah melakukan keburukan karena tidak menutup aurat seperti yang diinginkan pak Felix tadi?

Dugaan saya, yang dimaksud pak Felix adalah perempuan yang menutup auratnya hampir seluruh tubuhnya dan disisakan sebagian muka dan telapak tangan saja. Ini mungkin yang dianggap syar’i ( mungkin juga paling syar’i) menurut pak Felix. Tidak membikin fitnah mata, tidak membikin syahwat, dan kecantikannya tetap terjaga. Semoga.

<KEMBALI>

PERBEDAAN PANDANGAN ADALAH KARUNIA

Perbedaan adalah karunia, tapi lantas kalau berbeda kenapa harus saling sindir dan saling hujat? Malah kadang selalu dihubung hubungkan dengan agama. Bukankah setiap anggota markizen disini adalah beragama? Ya. Itulah kekurangan kelompok yang mau benarnya sendiri.

Sayangnya, ketika kita perhatikan di medsos, muslimah bercadar dan berniqab terkadang masih saja ada yang “emosi berlebihan” dalam ber komunikasi dengan saudari nya sesama muslimah dengan mengatakan neraka, maksiat, tidak syar’i yang diungkapkan secara berlebihan. Sayang sekali lho, ukhti !…. Mohon maaf. Ini hanya menyindir yang suka komen berlebihan kok. Jadi yang merasa tidak pernah komen yang berlebihan ya jangan di ambil hati ya ukhti.

Disini saya hanya berpendapat, bahwa macam macam jenis pakaian yang dikenakan para muslimah ini jelas sesuai dengan ilmu yang ia peroleh dari guru dan suaminya. Tidak mungkin seorang isteri merias dirinya secara berlebihan tanpa ijin dari suaminya ( dengan beberapa pengecualian) untuk kepentingan tertentu. Seorang isteri akan merias dirinya sebaik mungkin pada saat menghadiri majelis ataupun acara resmi di wilayah mereka. Seorang muslimah yang baik hanya merias dirinya hanya untuk sang suami.

Niqab dan bercadar juga bagus. Malah diwajibkan oleh sebagian ulama. Akan tetapi sebagian ulama mengatakan tidak bercadar dan berniqob pun boleh, selama berpakaiannya dianggap pantas dan tidak menghasilkan syawat. Buktinya, dari gambar gambar lawas yang bertebaran di internet, muslimah jaman dahulu cara berpakaiannya ya berkerudung seperti itu! Malah saya pernah bertanya ke mbah saya: apakah pada jaman belanda, jepang dan jaman gestok ( pen: gerakan satu oktober= sekitar 65 – 66 ) perempuan banyak yang memakai jilbab? Mbah saya menjawab: Tidak. Yang memakai jilbab hanya perempuan arab yang bersuami. Itu pun sebagian. Isteri kiyai ( biasa dipanggil dengan sebutan bu Nyai) pun jarang yang menggunakan jilbab. Nyai nyai masih memakai kerudung, tapi tetap nampak cantik dan anggun.

<KEMBALI>

GUNAKAN CARA BAIK, SANTUN DAN BERMARTABAT

Akan tetapi dalam rangka menjadikan seorang muslimah menjadi berniqab atau bercadar, ya harus digunakan cara cara yang baik, santun dan bermartabat. Yang penting pendekatannya bro !.

Penulis sendiri juga memiliki isteri yang berhijab. Hijab yang dipakai adalah jilbab. Ya yang biasa dipakai oleh muslimah saat ini. Dia berhijab mulai 94 hingga saat ini. Jilbab yang dipakainya tidak yang aneh-aneh amat. Sangat umum. Hanya menyisakan telapak tangan, kaki dan wajah. Hanya saja penulis perintahkan ke sang isteri hanya boleh dilepas saat di dalam rumah.

Jika ada tamu yang bukan anggota keluarga, maka jilbab harus dipakai. Jika terkadang ia keluar ke belakang rumah walau sebentar tetapi ada laki laki yang melihatnya, maka ia saya marahi dan penulis minta untuk mengenakan hijabnya. Ini aturan saya. Mungkin bisa sama, juga bisa beda dengan aturan anda semua. Beda orang beda aturan. Yang penting satu sumber aturan. Saya ngikut aturan dari guru saya. Mungkin anda juga. Asal jangan guru yutup dan gugel ya bro. Oke brow?

Tanggapan markizen soal fashion Muslimah Indonesia setelah dipilih yang termasuk menarik adalah sebagai berikut:

<KEMBALI>

TANGGAPAN TANGGAPAN WARGANET

Niken Satyawati : Jelas Ibu2 kita dulu juga mengaji, orang2 paham agama. Tapi busananya tetap khas daerah sendiri dan tidak serapat pemahaman kebanyakan orang sekarang tentang cara menutup aurat. Satu lagi, Ibu2 kita tidak gampang menuding yang lain sesat seperti ustad2 Twitter dan pengikutnya itu .

Rania obyektif sajalah apakah sikap Felix selama ini sudah sering mencela sesama muslim hanya krn tdk spt fahamnya bukan hal yg salah. Lebih salah Felix yg sdh memecah belah umat Islam. Sikap felix tdk pernah melihat org Islam yg beda dgn fahamnya sbg saudara ! Putar lagi semua videonya agar anda lbh baik mengenal siapa Felix ! . Felix mualaf belajar Islam kpd guru yg salah. Di IPB dia belajar Islam yg mana salah satu tokohnya ternyata perakit bom. Dia mmg tdk smp sejauh itu, ttp bs dibayangkan apa ajaran yg sudah dia telan. Tdk heran sikapnya tdk mencerminkan Islam sesungguhnya.

Ernesto Che Chabovara: Wahai para penghina, saya mau tanya satu hal. Bagi antum, bagaimana hukum menyentuh anjing? Apakah binatang ini najis? Apakah jika ada orang yang menganggap anjing tidak najis lantas ia sesat? Jika antum auto-menyesatkan, maka sangat wajar jika pendapat yang dikemukakan Ibu Sinta antum tolak bahkan antum hujat. Ibu kau maki-maki sesuka nafsumu. (Maaf, saya tidak sudi menggunakan istilah sesuka hati. Karena jika kita menggunakan hati, maka kita menggunakan cinta. Ujaran kebencian sangat jauh dari persoalan cinta).

Anugerah Terindah Rambut di tutupi dengan kain,…. seolah rambut di ganti dengan kain saja seolah sdh melakukan perbuatan yg sangat suci,…. pertanyaanya kalo tdk di tutupi dan dengan tutupi ???,…. apa hakikatnya???,…. apakah kalo dia pakai jilbab terlihat tdk menarik dan terlihat tambah jelek dan tdk menimbulkan syahwat bagi kaum laki”???,…. saya rasa jawaban sangat bodoh.dan pada akhirnya tdk ketemu hakikat berTuhan.hanya gara” kain jadi pengganti penutup rambut.justru saat ini berjilbab adalah fashion,… bukan orang bertambah jelek bahkan terlihat cantik yg mana mereka yg punya rambut jelek bisa di edit dengan cara berjilbab.saya sangat setuju dengan pendapat Ibu Shinta,…. berjilbab tdk lah wajib .

WAL AKHIR

Wal akhir, semoga pak ustadz Felix, bu Nyai Nuriyah, selalu diberi kesehatan. Supaya beliau beliau ini terus berdakwah dan mencerahkan muslimin muslimat di negeri ini. Masih banyak yang tersesat di negeri ini. Jangan kau kuras energi dan emosimu untuk hanya berdebat soal hijab. Masih banyak soal lain yang mesti kau dakwahi lur! Dan semoga kita semua semakin pandai dan semakin berakhlakul karimah dalam berdiskusi di medsos. Pandai disini maksudnya adalah dari suka mencaci menjadi lebih santun, dari sekedar bicara tanpa bukti menjadi selalu menyertakan bukti dan dalil.

Wasalam.

<BACA LAGI>

Penulis Kontributor

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Post comment