CARA CAK JON MENCUCI OTAK MURIDNYA

Ibarat kertas atau kain yang sudah dicuci, kemudian fungsinya dirubah, maka hilang sudah asal muasalnya.  Begini, kertas ini penuh coretan. Macam macam coretan. Sedikit demi sedikit coretan ini dibersihkan, ditata sesuai kehendak si penghapus, maka kertas tadi sudah kosong kembali dan bisa diisi dengan catatan-catatan lain sekehendak sang pendikte. Sang kertas ini pasti senang karena ia telah tertata dengan rapi. Ia pasti bangga dengan sang penghapus sekaligus pencatat. Sayangnya yang dicatat dikertas adalah doktrin salah.

Ibarat kain, kain ini asalnya adalah kain kumal. Penuh daki dan banyak kotoran. Karena sang pencuci sabar dan penuh keyakinan mampu meyakinkan sang kain bahwa kotornya bisa dihilangkan dan bisa bersih, maka kain pun dicuci pelan pelan sedikit demi sedikit, disulap menjadi kain taplak penutup meja, kain baju, kain untuk jilbab dan lain sebagainya. Tentu derajat kain berubah. Pasti bangga dong sang kain ini.

Kain ini ibarat otak orang. Otak mana yang tidak senang jika dia telah berubah. Dari bebal menjadi pandai, dari bodoh menjadi pintar, dari pikiran kotor menjadi pikiran bersih, dari pikiran negatip menjadi pikiran positip.

Yang repot adalah jika sang kain sudah merasa suci. Atau untuk menuju suci, maka harus berguna bagi kelompoknya. Bahkan berkorban untuk kelompoknya. Mati demi kelompoknya pun okelah karena ia telah disucikan oleh gurunya yang tukang cuci dan ia dijanjikan akan semakin membikin bangga sang maha pencuci: ALLAH SWT.

PERTANYAAN ANDALAN DARI TUKANG CUCI

Gaguk sering sekali mengunjungi pengajian kang Jon. Gaguk ini lulusan cucian baru. Otaknya barusan hijrah dari otak kumal ke otak positip. Ya sejak ngaji di ustadz Jon Ad-Dabrus ini. Pengajian cuci otak ustad Dabrus ini asik dan menarik. Kalimat kalimat kajiannya masuk akal dan masuk logika. Gaguk semakin bangga berguru kepada ustad Dabruz ini.

Setelah diteliti, cara kang Jon mencuci adalah seperti ini:

  1. Kang Gaguk ditanya: Bagus Mana Alqur-an dan Pancasila?
  2. Lebih bagus mana, kepemimpinan Jokowi apa Rosulullah?
  3. Lebih solid mana, Sistim pemerintahan Negara Islam apa negara kafir?

Pertanyaan ini sekilas memang boleh bolah saja. Masuk akal, akan tetapi tidak masuk level. Kok bisa? Lha iya. Masak Alqur-an disamakan dengan Pancasila apalagi Undang-Undang Dasar 1945. Blass Gak mathuk. Blas gak level. Tentu saja si penjawab akan memilih Alqur-an.

Mestinya yang ditanyakan adalah bagus mana Alqur-an dengan kitab ini, dengan kitab itu, nah itu baru tepat. Kitab ini kitab itu adalah Firman Tuhan juga. Jangan dibandingkan dengan kitab buatan manusia.

Apalagi menjawab pertanyaan kedua, bagus mana Presiden Jokowi apa Rosulullah. Ini sangat tidak level. Mosok Nabi dilevelkan dengan Presiden? Wah pasti ini tidak benar.

Mestinya kan dibandingkan apple to apple, seperti begini: Bagus mana pimpinan presiden Sukarno dengan Jokowi? Atau Bagus mana pimpinan Presiden SBY dengan Jokowi. Begitu dong. Itu baru apel melawan apel. Kalau Apel melawan Nabi ? Ya gak imbang. Si penanya jelas orang radikal.

Yang lucu, pertanyaan ketiga. Negara Islam apa negara kafir? Wah ini sangat tidak masuk akal. Negara kita ini, tempat kita tinggal ini adalah Negara dengan prinsip Republik. Yang memimpin adalah Presiden. Presiden itu dipilih oleh Rakyat. Presiden diawasi oleh wakil rakyat. Lho, apa lagi? Sudah masuk akal toh?

Lha terus yang dimaksud negara islam ini negara yang kek mana? Peraturannya pakai prinsip syari’ah Islam? Okelah saya setuju. Tapi terus apa mesti dipaksakan? Lha wong negeri ini adalah negeri dengan kesepakatan. Kalau sepakat bikin UU syariah ya monggo.Permasalahannya adalah yang ngotot ingin jadi negeri bersyariah kan kelompok mereka  itu kan?  Jumlah mereka sebagian kecil. Terus sebagian besar rakyat Indonesia ini kan memilih pakai demokrasi, bukan syari’ah.

KEPALA BATU YANG KERAS KALAU DITETESI AJAKAN BERKHILAFAH MAKIN LAMA AKAN BOLONG JUGA KAN?

 Ya. Batu yang keras  jika ditetesi air yang mudah ambyar saja akan bolong. Akan luluh. Apalagi kepala cak Gaguk yang isinya air? Ya pasti dengan mudah cak Jon mengisi dan menetesi  isi kepala cak gaguk dengan cerita-cerita dongeng soal khilafah. Terlebih cak gaguk adalah anak baru dalam dunia ngaji. Wah sasaran empuk nih, kata cak Jon.

HOLED STONE
Batu ini berlobang juga setelah ditetesi air terus menerus

Cak Jon dan cs nya mencari mangsa di majelis ngaji di desa-desa, di kota-kota, disekolahan, dikampus, dikantor, dan segala tempat yang ada tempat sholatnya. Kenapa demikian? Karena tempat sholat adalah tempat yang paling nyaman dan aman untuk melancarkan gerakan cuci otak. Mencuci otak orang orang yang rindu dengan kejayaan Islam. Padahal rasa rindunya berasal dari baca buku. Bukan Ngaji. Bukan dari ngumpul-ngumpul bersama orang alim.

Lebih lebih era saat ini adalah era digital. Waah pasukan cyber milik ustad Dabruz yang militan masuk ke berbagai platform seperti Facebook, Twitter, Instagram, Telegram dan medsos yang lain. Sebenarnya semua platform ini milik musuh ustadz dabruz. Tapi berhubung katanya boleh untuk dimanfaatkan demi perjuangan, ya halal aja gitu.

HIMBAUAN KANG NASIR ABAS, MANTAN TERORIS, KEPADA KITA

Pada suatu kesempatan, kang Nasir abas bilang begini:

“Belajarlah Islam kepada sumber yang benar. Cari mentor atau guru yang dapat membimbing kepada jalan yang penuh cahaya. Di Indonesia mentor yang baik adalah para kyai yang tergabung dalam ormas Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah. Dua ormas yang besar ini sudah diakui pengetahuan keagamaannya bernuansa moderat dan menentang paham radikal-teroris.”

Nah tuh. Ini mantan teroris lho yang bilang. Bukan saya.

Terus kang Nasir juga berpesan bahwa jika ada orang yang suka membanding-bandingkan dengan 3 pertanyaan diatas, maka hindarilah orang itu. Laporkan kepada ulama atau penegak hukum terdekat. Dia mengandung virus. Virus Radikal .

 Lalu jika kita bertemu dengan orang yang selalu mengatakan bahwa mendirikan negara Islam adalah fardhu ain dan apabila kita enggan bahkan menolaknya terus kita berdosa, maka orang ini perlu di tandai untuk di kalibrasi ulang.

Medsos adalah tempat yang cocok untuk merekrut para teroris

Lalu ada juga orang yang bilang jika kita membunuh orang yang berseberangan dengan kita terus darahnya dianggap halal, maka jelas orang ini pasti bermasalah. Bisa dikategorikan kelompok radikal nih.

Jadi opini saya sudah benar kan? wasalam

yohan Indrawijaya

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Post comment