PENEMUAN SITUS PEMANDIAN KUNO BRUMBUNG KEPUNG DAN PRASASTI GENENG

Pada Bulan 3 Juli 2020 lalu, Sulton, pak Kamituwo Dusun Kebonagung desa Brumbung dan warganya yang ikut kerjabakti menemukan struktur batu bata kuno di kedalaman 2,3 meter saat ada pekerjaan membuat kolam renang untuk anak – anak.

Ahli Geologi Teknik Geofisika ITS, mengatakan aktivitas vulkanik Gunung Kelud setinggi 1.731 meter diatas permukaan laut (MDPL) hingga saat ini menimbulkan letusan eksplosif berupa letusan.

Situs ini diduga terkubur di bawah letusan Gunung Kelud dimasa lalu.

Pasca penggalian, maka para arkeolog mendapatkan kesimpulan bahwa struktur ini adalah pemandian kuno peninggalan raja jaman dahulu.

FOTO MILIK JAWAPOS RADAR KEDIRI

LOKASI SITUS

Untuk bisa mengunjungi situs di brumbung ini, kita bisa menempuh dengan 2 jalur.

Pertama, dari arah Plosoklaten, Kediri, yakni anda terus ikuti jalam Plosokaten-Pare hingga sampai di desa Gedang Sewu.

Setelah anda sampai di pertigaan Perhutani, silahkan belok kanan di Jl. Puncu-Kepung.

Disana anda terus melewati jalan raya di Kecamatan Kepung hingga anda sampai di desa Brumbung.

Jalan yang kedua, yakni melewati jalan raya Pare-Kasembon. Setelah anda sampai di desa Damarwulan, anda akan menemukan gapura yang bertuliskan PLTA Siman yang ada di kanan jalan.

Lalu ikuti jalan menuju PLTA tersebut, dan anda akan sampai di desa Brumbung.

HUBUNGAN SITUS DENGAN SEJARAH

Situs ini tercatat dalam prasasti Geneng Dua pada abad ke-14. Namun demikian, tidak ada catatan dan registrasi peninggalan kuno Hindia Belanda dan Inggris sejak tahun 1800-an.

Jika terkubur saat letusan besar Gunung Kelud tahun 1919, Belanda pasti mencatatnya. Situs ini Kemungkinan tersembunyi saat terjadi letusan Gunung Kelud pada 1500-an.

Ditempat yang sama ini warga juga menemukan prasasti dari jaman kerajaan yang berbeda.

Prasati Geneng I pada era Raja BAMESWARA ( 1050C /1128M ) dan prasasti GENENG II pada era Ratu TRI BUWANA TUNGGA DEWI ( 1251 C/1329M ).

2 Prasasti tersebut lengkap dengan ukiran aksara Jawa kuno di sekelilingnya. Prasasti ini atau biasa disebut warga dengan “Watu Tulis” ini disimpan di Balai Desa Brumbung.

Arkeolog menduga, benda penemuan di tanah Sulton merupakan peninggalan Kerajaan Kediri pada abad ke 11 dan berlanjut hingga jaman Majapahit pada abad ke 14.

SITUS BRUMBUNG MASUK BENDA CAGAR BUDAYA

Kepala Bidang Sejarah dan Purbakala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kediri memastikan bahwa PETIRTAAN KUNO itu termasuk dalam benda yang diduga cagar budaya (ODCB).

Terkait temuan tersebut, pihaknya menyerahkan kepada BPCB Jawa Timur untuk observasi dan penelitian.

Kepala Dinas Sejarah dan Purbakala mengatakan, penggalian kedua dilakukan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kediri ini meminjam alat dari Dinas Pekerjaan Umum untuk mempercepat pekerjaan di lapangan.

Apalagi di lokasi ditemukannya petirtaan, tanahnya berbatu dan berlapis.
Kepala sementara Dinas Sejarah dan Purbakala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Kediri, membenarkan temuan tersebut telah dilindungi undang-undang. Saat ini, lokasi penggalian ODCB sudah diberi garis polisi.

Sebagai upaya untuk menyelamatkan dan menghindari kerusakan, BPCB Jawa Timur menyarankan agar tidak dilakukan penggalian lebih lanjut di kawasan tersebut hingga ada rekomendasi lebih lanjut.

Penemuan petirtaan di kawasan Kepung ini mempertebal jejak kehidupan manusia yang terkubur akibat letusan Gunung Kelud.

Kawasan perbatasan timur Kediri kerap menjadi sorotan, karena banyak ditemukan benda purbakala.

Pemerintah Desa Brumbung menyimpan benda purbakala yang ditemukan warga .

Benda -benda tersebut antara lain adalah arca Dewa Brahma, Dwarapala, Batara Kala, Yoni dan Jaladwara

Sedangkan penggalian Situs Brumbung Kepung ini dilakukan untuk mengetahui bentuk dan ukuran struktur bangunan, karena memiliki nilai penting dalam bidang ilmu pengetahuan, budaya dan agama.

Penulis: Robith A

Editor: Yohan I

Penulis Kontributor

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Post comment