BERARTI TROWULAN ITU ADALAH SEWULAN?

Oleh: YOHAN INDRAWIJAYA

FOTO dari TRIBUNNEWS

MULAI

MBAH LIM: CARILAH ADIK SEPERGURUANKU

Pada suatu hati, guru saya, (sebut saja) mbah Lim memerintahkan saya untuk mencari adik seperguruannya yang bernama (sebut saja) mbah Amodo. Beliau memberi saya bekal sebuah batu segi enam mirip bata paving sebagai tanda bahwa saya adalah keturunan (sebut saja) mbah Suro Prabowo.

Batu Paving? apa apa-an ini? tanyaku. Kalau batu paving model gini di toko bangunan ya banyak! bathinku berkata.

Baru saja aku mbathin gitu, simbah guru berkata: ” Jangan goblok, mosok kamu gak bisa membedakan paving semen sama paving jaman mojopait” aku seketika kaget.

“Lho mbah, saya harus memulai dari mana mbah?”

“Kamu mulai dari turun terminal, terus carilah orang gila yang rambutnya di gendeli ( rambut di kuncit ala rakyat mojopahit), tanyakan dimana desa sewulan. Kalau sudah sampai, carilah mbah Amodo. Selanjutnya stempel ini tunjukkan kepadanya kalau dia masih ngotot tidak percaya kamu” kata mbah Lim

Akhirnya saya berangkat. Saya ambil cuti 2 hari untuk mencari nama yang disebutkan mbah Lim ini.

Terminal Bus Mojokerto

Setiba di terminal kertajaya mojokerto, saya berjalan kaki mencari alun alun dulu. Dengan harapan akan bertemu dengan orang gila disekitar alun alun.

Selama perjalanan, sulit sekali mencari orang gila. Andaikata saya bertemu pun, tidak mirip dengan yang diminta simbah, rambutnya di gendeli. Adanya ya gembel gitu, lusuh, kotor dan bau.

Ketika ada toko atau warung, saya bertanya kepada orang orang dimanakah desa Sewulan. Semua mengatakan tidak ada. Setiap ada pos jaga dan pos satpam, juga kutanya dimanakan desa sewulan. Semua juga mengatakan bahwa desa Sewulan tidak ada.

Kutanya ke google, ternyata desa sewulan ada di Madiun! wah jauhnya. Tapi lha guru saya bilangnya di mojokerto tuh!.

Sewulan Madiun . Foto oleh Google

TANYAKAN KE WONG KUNCITAN

Hingga suatu sore saya bertemu dengan seseorang yang rambutnya di gendeli atau kuncit rambut ala majapahit, tapi tidak kotor banget. cuma dia seperti tinawisma / gelandangan lah. Akhirnya saya beranikan diri untuk saya sapa dan saya tanyai.

“Assalaamu alaikum” Dia tidak menjawab. Oh mungkin dia non muslim.

“Om swastyastu” Masih tidak menjawab. Berarti bukan orang Hindu nih. Masak dia umat kristiani? Saya tanya lagi

“Shallom” Tetap tidak mau menjawab

“Namo Bhudayya” Masih diam saja. Saya bingung. Ini harus disapa pakai kode apa ya? Disaat saya sedang bingung mencari cara bersalam, tiba tiba dia menjawab dengan

“Om!….Ngapain kamu?”

Ini menjawab salam apa bertanya ya? saya bingung. Kalau Om disini berarti menjawabsalam, maka orang gelndangan ini adalah warga Hindu. Kalau Om disini adalah “paman”, maka berarti ia memang bertanya apa tujuan saya menyapa dia…

“Eee maaf mbah, saya mau nanya desa Sewulan” tanyaku

Setelah agak lama kutunggu, dia baru menjawab:

“Sewulan sudah hilang 700 tahun lalu. Sudah diubah menjadi Trowulan” kata orang gelandangan tadi.

Saya kaget. Ah mosok? perasaan dari dulu trowulan ya trowulan sejak jaman dulu pikirku. Tapi lha dia bilang gitu masak aku harus percaya begitu saja?

“Mbah, saya mau nanya mbah. Dimana rumah mbah Amodo?” tanyaku

“Nango sumur upas” kata si kuncit tadi

“nggih mbah” kataku.

Segera kutinggal pamit orang itu. Selanjutnya dari tadi aku dperhatikan oleh orang sekitaran situ.

ORANG TUA YANG ANEH

“Mau kemana mas?”

“Badhe ten Sumur Upas”

“O sumur upas di sana” tunjuk orang tua yang memperhatikanku dari tadi.

“nggih pak. Matur Nuwun”

“Mau nemuin siapa?”

“Mbah Amodo”

Orang tua itu mukanya nampak pucat. Seperti kaget dengan yang kuucapkan.

“Sampeyan sinten? saking pundi?”

“Kulo putu ne mbah Suro Prabowo, prawiro agung mojo pait. Kulo saking Malang ( saya cucunya mbah Suro Prabowo, perwira tinggi Mojopahit. Saya dari Malang)”

Seketika si orang tua tadi langsung jatuh. Seperti menjatuhkan diri. Kemudian entah kenapa dia memegang telapak kakiku dan menciumi kakiku yang tengah bersandal selop. Aku jadi risih.

“Ampun gusti. Ampun gusti. Kulo lancang (maafkan saya tuan, saya lancang)” Kata orang tua tadi. Aku jadi bingung. Selanjutnya si orang tua ini kunaikkan badannya dengan maksud jangan main sembah sembahan gitu. Gak enak di lihat orang sekitar. Lho? orang gelandangan barusan kemana? kok tidak ada! wah aneh ini.

“Gusti, monggo kulo kawal dhateng patih amodo ( mari tuan, mari saya kawal ke patih Amodo)” kata dia sambil membungkuk bungkuk seperti ketakutan dan memberikan tanda jempol dimiringkan kepadaku.

“Oh mpun repot pak. Kulo di kengken melampah kaliyan guru kulo. Mboten angsal dikancani. Nopo malih dikawal. Kados tiyang penting mawon pak! ( ooh gak usah. Saya disuruh jalan kaki sama guru saya. Tidak boleh ditemani. Apalagi dikawal. Seperti orang penting saja, pak)”

Akhirnya pak tua tadi membungkuk membungkuk mirip film film kerajaan jaman dahulu gitu, terus pamitan pergi. Dia berlari seperti ketakutan.

“MBAH AMODO ITU NGGAK ADA”,KATA ORANG -ORANG YANG KUTANYAI

Sepanjang perjalanan ke Sumur Upas, setiap warung, pos, toko yang kulewati selalu menjawab tidak tahu siapa mbah Amodo. Hingga aku sampai di tujuan: Sumur Upas.

SUMUR UPAS. FOTO MILIK: MANUSIA _LEMBAH_COM

Sumur upas bentuknya tidak seperti kebanyakan sumur. Warga sekitar malah meyakini jika sumur ini bisa sampai laut selatan. Sedang asik mengamati situs disekitaran situ, aku terperanjat dengan sebuah bentuk batu. Segi Enam. Ya batu paving segi enam.

Batu yang kubawa rupanya mirip dengan batu yang ada di situs Sentonorejo, Mojokerto ini . Apakah ini petunjuk dari si mbah Lim bahwa saya harus ke sini dulu? Apakah saya sedang ditunjukkan bahwa leluhur saya adalah warga sekitar situs ini? Banyak sekali pertanyaan yang hinggap.

Dimana mbah amodo ini ya? Tanyaku dalam hati. Wah. …sangat gelap. Akhirnya aku ada ide untuk mencari orang paling tua di daerah sini.

Setiap orang tokoh masyarakat daerah sekitar situs tidak ada yang tahu dengan nama Mbah Amodo ini. Malam menunjukkan pukul 21.30. Sudah tidak pantas untuk bertamu ke orang tua maupun tokoh masyarakat. Akhirnya kuputuskan untuk menyudahi pencarian mbah Amodo ini. Aku mencari masjid terdekat sekitar daerah itu.

MBAH MONGOL YANG PIKUN

“Ada sih yang paling tua disini, namanya Mbah Mongol” kata pemuda di sebuah warung. Dia tinggal di sini, gang ini, dekat bangunan ini.

“Tapi dia sudah renta dan pikun. Dia selalu duduk duduk memandang langit pada waktu terang bulan” kata tetua kampung itu yang tengah ngopi di warung.

Sesuai petunjuk yang kukumpulkan akhirnya aku nekat mencari mbah mongol yang diceritakan.

Lha! persis disebuah halaman rumah yang agak lapang, seorang tua dengan wajah terang mirip orang china duduk duduk memperhatikanku yang tengah kebingungan mencari mbah mongol ini.

“Kulo Nuwun. Assalaamu alaikum”

“Wa alaikum salam” jawab si mbah tua

“Mbah mongol nggih?”

“Nggih. Njenengan sinten ( anda siapa) “

“Kulo Yohan, putunipun Mbah Suro Prabowo, prawiro Mojo pait ( Saya yohan, cucunya mbah Suro Prabowo, perwira mojopahit)” Jawabku

SHOW ME THE PASSWORD: APA KATA SANDINYA?

Seketika mbah mongol mukanya berubah. Tadi seperti orang tua yang pikun dan renta langsung berubah seperti tentara. Tatapan tajam dan berwibawa. Ada apa lagi ini?

Seperti tidak senang, mbah mongol bertanya:

“Apa buktinya kalau kamu cucu Suro Prabowo?”

Mendengar pertanyaan itu, segera ku keluarkan sepotong paving tadi untuk kutunjukkan dihadapannya.

“Niki Mbah” kataku.

“Kalau begituan ( bata paving segi enam) di toko ya banyak” bantah mbah Mongol

Selanjutnya aku mengeluarkan cincin bermata matahari majapahit.

“Niki mbah” kataku.

“Kalau begitu di pasar loakan ya ada. Banyak” Mbah tua ini masih juga membantah.

Selanjutnya ku keluarkan potongan kayu langka sejenis kayuwangi, tapi entah apa namanya potongan kayu ini. Yang jelas mbah guru ( mbah Lim) berkata bahwa kayu ini hanya ada dijaman Wilwo Tikto. Hmm istilah apa lagi ini?

“Hmm. Aku masih ragu. Ada lagi nggak, bukti yang lain?” tanya mbah Mongol.

Akhirnya terpaksa ku keluarkan stempel kuno milik si mbah Lim. Mbah Lim pernah bercerita bahwa hanya keturunan Suro Prabowo dan Kungta Bumi yang memiliki stempel ini.

STEMPEL MAJAPAHIT. FOTO MILIK TRAHMAJAPAHIT_COM

Begitu mbah mongol nampak melihat stempel tersebut, langsung terdiam. Diamatinya stempel tersebut. Kemudian ia menatapku.

Kali ini ia tersenyum. Berarti passwordnya benar.

“Berarti kowe murid e (sebut saja) kang Muslim”

Mbah mongol berdiri dan menubrukku. Dia memelukku seperti pelukan teman yang lama tidak bertemu. Erat sekali pelukannya.

“Monggo mlebet (silahkan masuk)” kata mbah Mongol yang ternyata adalah Mbah AMODO. Aku diajak duduk diteras rumahnya. Waktu menunjukkan pukul 23.30. Tidak ada orang satupun dipojok dusun Sentonorejo ini.

MASAK USIANYA 700 TAHUN?

Percakapan dimulai dari menanyakan kabar guru saya, kemudian menceritakan Perguruan Mbah Mongol dan Mbah Lim, yakni perkumpulan kaum “IMMORTAL” di Nusantara ( termasuk Malaysia dan Philipina ).

Banyak hal yang diceritakana mbah Mongol yang ternyata adalah mbah Amodo ini. Beliau bercerita bahwa ia berasal dari daratan Mongolia, entah aku lupa mengingat nama kabupaten dan kecamatannya. Dia adalah prajurit setia Prabu Hayam Wuruk. Beliau mengaku berangkat dari prajurit bantu pada jaman Ratu Tri Bhuwana Tungga Dewi, kemudian menjadi prajurit pengawal raden Hayam wuruk, selanjutnya menjadi pengawal raden wirabhumi.

Sebetulnya dia kecantol di Jawa pada saat ikut penyerangan ke Singosari gara – gara insiden pemotongan telinga utusan dari Mongol oleh Raja Singosari. Kemudian ia diselamatkan oleh kelompok IMMRTAL ini dan disumpah untuk menjaga Raja – Raja Jawa sampai Kiamat Kubro.

Apa? prajurit hayam wuruk? bukannya Raden Hayam Wuruk hidup era 1350 an? Ah ngawur mbah mongol ini…Mana ada manusia bisa hidup 700 taun lebih?

Tapi ketika kutanya perihal bunuh dirinya Sang Dyah Pitaloka ( Putri cantik dari Tatar Sunda ), mbah Mongol seketika menangis tersedu sedu. Seperti menyesali tragedi tersebut. Apakah Mbah Mongol ikut jadi pelaku sejarah pada saat itu?

Yang aku masih bertanya tanya adalah, kenapa mbah Mongol ini bisa bercerita dengan detail ( walau banyak yang tidak sama dengan tulisan sejarah di buku maupun di wiki)

KESIMPULAN PERTEMUAN DENGAN MBAH MONGOL ALIAS MBAH AMODO

Banyak catatan keanehan-keanehan yang kuperoleh dari percakapan dengan mbah Mongol ini, seperti:

  1. Sewulan adalah Trowulan
  2. Suro Prabowo adalah nama samaran mbah buyut saya. Ada “kode” tersendiri untuk anak turun mbah Suro Prabowo yang “ditandai”. Saya juga baru tahu kalau saya ini keturunan Suro Prabowo. Yang saya tahu saya ini keturunan petani dari Turen, mbah Kudus, dan keturunan Pedagang dari Kediri.
  3. Mbah Mongol selalu menyebut kota Surabaya dengan Suwer Paya
  4. Sejarah yang ditulis itu banyak yang dipalsu oleh para pengarang yang berkepentingan busuk mengikuti penguasa. Mbah Mongol sepertinya benci dengan para Amangkurat ( Mataram kah?) . Kadang mbah mongol menangisi penyimpangan cerita sejarah tentang kejayaan Majapahit. Seperti pupuh peraturan kerajaan disebutkan ada ribuan pasal tapi yang diungkap oleh generasi terakhir ini hanya beberapa pasal saja. Termasuk kebenaran pelaku sumpah amukti Palapa.
  5. Meriam “cet bang” memang buatan majapahit dan banyak dipakai oleh negara bawahan majapahit untuk perang laut dan perang darat.
  6. Pendeta Eropa. Ketika kutanyakan perihal pendeta eropa yang bernama Matiuzzi, beliau tidak tahu. Tapi begitu kusebut PANDITO SABRANG LOR BUMI IRUPA yang membawa “simbol salib”, beliau langsung paham dan bercerita bahwa mbah Mongol lah yang menjadi “guide” dari pendeta eropa tersebut. Diceritakan bahwa pendeta eropa tersebut bercakap cakap dengan mbah mongol menggunakan bahasa china.
  7. Di Indonesia ada manusia “muksa” yang keberadaannya misteri dan misterius. Termasuk mbah Mongol. Manusia muksa ini mengikuti agama yang paling mayoritas dimana dia ditugaskan oleh ‘Sang Hyang Gusti a-Murbeng Dumadi ( Tuhan Maha Pencipta ).
  8. Budaya majapahit banyak yang dipakai oleh orang eropa seperti Gotong Royong, Kinasih ( saling kasihan dan mengkasihi ), teknologi perang dan siasat perang. Sayangnya dokumen dan manuskripnya tidak ditemui di Indonesia.
  9. Memohon untuk merahasiakan keberadaan manusia immortal ini.

Wal Akhir. Hidup ini penuh misteri. Janganlah terlalu percaya dengan guru manusia, percayalah dengan guru sejatimu, ALLAH SWT. Seperti yang diceritakan cak JON kepada Yohan Indrawijaya, pemerhati sejarah Semprulnesia.

NOTE: CERITA INI CERITA FIKSI. JANGAN DIJADIKAN PATOKAN SEJARAH. JIKA ADA KESAMAAN TOKOH ITU KARENA KEBETULAN SAJA.

Wallahu A’lam. Wasalam.

<BACA LAGI>

yohan Indrawijaya

29 Responses

  1. My husband and i ended up being very more than happy when Chris managed to finish up his preliminary research via the ideas he obtained from your very own web page. It’s not at all simplistic to just continually be handing out information which often people today could have been trying to sell. And we all understand we’ve got the writer to appreciate because of that. The illustrations you’ve made, the straightforward web site menu, the friendships your site help instill – it is all powerful, and it is letting our son and us do think the subject is awesome, which is certainly unbelievably pressing. Thank you for the whole thing!

  2. I was curious if you ever considered changing the page layout of your site?
    Its very well written; I love what youve got to say.

    But maybe you could a little more in the way of content
    so people could connect with it better. Youve got an awful lot
    of text for only having one or 2 pictures. Maybe you could space it out better?

  3. Thanks for the marvelous posting! I genuinely enjoyed reading
    it, you may be a great author.I will be sure to bookmark your blog and definitely will come back someday.
    I want to encourage continue your great posts, have a nice evening!

    Take a look at my webpage; CBD for dogs

    • Thank you for your attention. I have searched your web and I rate yours much better than mine. Thank you

  4. My programmer is trying to persuade me to move to
    .net from PHP. I have always disliked the idea because of
    the expenses. But he’s tryiong none the less. I’ve been using
    WordPress on several websites for about a year and am worried about switching
    to another platform. I have heard excellent things about blogengine.net.

    Is there a way I can transfer all my wordpress posts into it?

    Any help would be really appreciated!

    Here is my webpage :: gold bee

  5. First off I want to say excellent blog! I had a quick question which I’d like
    to ask if you do not mind. I was interested to know how you center
    yourself and clear your head before writing. I’ve had a difficult time clearing my thoughts in getting
    my thoughts out there. I do enjoy writing but it just
    seems like the first 10 to 15 minutes tend to be wasted simply just
    trying to figure out how to begin. Any suggestions or tips?
    Appreciate it!

  6. I just like the valuable info you supply on your articles.
    I’ll bookmark your weblog and take a look at again right here frequently.
    I’m slightly certain I’ll learn many new stuff right here!
    Best of luck for the next!

  7. It is perfect time to make some plans for the future and
    it’s time to be happy. I have read this post and if I could I wish to suggest you
    few interesting things or advice. Maybe you could write next articles referring to this article.
    I want to read even more things about it!

    Check out my web blog; US Magazine (http://www.usmagazine.com)

  8. It’s remarkable to go to see this web page and reading the views of all colleagues regarding this
    piece of writing, while I am also zealous of getting familiarity.

    Feel free to visit my homepage :: Observer

  9. Just want to say your article is as astounding. The clearness in your post
    is simply excellent and i can assume you’re an expert on this subject.
    Fine with your permission let me to grab your feed to keep up to date with forthcoming post.
    오피사이트

  10. i used a local hosting provider in my country. It just a simple blog.
    There are no a lot of accessories in the blog. Just write and post to the world for mankind.

    thanks for visit

  11. I was wondering if you ever thought of changing the page layout of your site?
    Its very well written; I love what youve got to say.
    But maybe you could a little more in the way of content so people could connect with it better.
    Youve got an awful lot of text for only having 1 or two images.
    Maybe you could space it out better?

  12. Have you ever considered publishing an ebook or guest authoring on other websites?

    I have a blog centered on the same ideas you discuss and
    would really like to have you share some stories/information. I know my subscribers
    would value your work. If you are even remotely interested, feel
    free to send me an email.

  13. Hey There. I found your blog using msn. This is a very well written article.
    I will be sure to bookmark it and come back to read more of your useful info.
    Thanks for the post. I will certainly comeback.

  14. I’m not that much of a online reader to be honest but your blogs really nice, keep it up!

    I’ll go ahead and bookmark your website to come back later.
    Cheers

  15. Hey there just wanted to give you a quick heads up and let you know
    a few of the images aren’t loading properly.
    I’m not sure why but I think its a linking issue.

    I’ve tried it in two different internet browsers and both show the same results.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Post comment