PENTINGNYA MEMAHAMI PERBEDAAN MADZHAB, KAJIAN USTADZ ADI HIDAYAT.

Sumber asli dari yutup di link ini.

jangan meremehkan imam syafi’ie, ulama madzhab

(ceritanya )Dalam semalam, syafi’ie menghafal kitab al muwattha’ yang lumayan tebal.  Sambil menunggu majelis esok hari, syafi’ie menghafal al muwattha’. (ketika) Di cek oleh Imam Malik, tidak ada yang keliru.

Jadi kalau anda belum bisa sedikitnya sebarisnya ilmunya dari Imam Syafi’ie, janganlah mempersoalkan keulamaannya.

Jadi jika anda sebarisnya saja dari kalimat hafalan asy syafi’ie  belum bisa menyainginya, maka jangan coba mencela beliau. Dan merendahkannya. Waah itu luar biasa (menghina) . Apalagi (kalau anda) merendahkan sahabat. Waah itu keterlaluan!

Punya murid diantaranya al Buwaithi,  (terus) Imam Al Bukhari? Imam Al Bukhari termasuk murid asy Syafi’ie .

(Prof) Dr. Wahbah Az-Zuhaili, representasi dari asy syafi’ie, tinggalnya di syria, tapi sudah wafat (8 agustus 2015), saya berkesempatan dengan beliau ,kita pernah siaran di TV yg sama, acara yang sama, di Libya, dan Masya Allah ilmunya sangat luar biasa. Karyanya yang fenomenal: al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu(1989).

Apa saja madzhab di asia tenggara

Kalau anda ambil sebagian di Malaysia, sebagian besar Indonesia, di Philipine dan sebagainya, itu umumnya rata  rata asy syafi’ie.

Bismillah nya di jaharkan. Subuh pakai qunut. Ati ati Imam Syafi’ie qunut. Imam Al Bukhari, itu qunut. Jadi kalau misalnya anda nggak qunut, ati ati jangan langsung mengungkapkan ooh itu bid’ah yang qunut nih, salah yang qunut nih. Imam Al Bukhori  (baca) qunut!

Anda nyebut (ikut) Imam al Bukhori, qunutnya anda salahkan tapi hadistnya anda ambil. Agak bingung tuh?

Qunut itu salah! Qunut bid’ah! Tapi anda berhujjah dengan hadist  Al Bukhari. Belajar dulu, cek dulu. Termasuk dengan yang qunut pun jangan dipersoalkan. Punya dalil juga! Jangan jangan anda ambil sesuatu yang anda tidak ketahui. Jadi kita pelajari dulu ya?

imam hanbali

Sekarang Imam Ahmad bin Hanbal. Hambali. Punya murid (Imam Abu Bakar) al Atsram, termasuk syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, ibnu Qayyim al Jauziyah, termauk syaikh al Albani. Jadi Syaikh al Albani pun bermadzhab. Madzhabnya apa? Hambali.  Awas hati hati, awas!  Antum yg belajar dari syaikhnya . Al Albani misalnya, Ibnul Qayyim al Jaizuyah sampai ke syaikul islam Ibnu Taimiyah itupun bermazhab. Madzhab nya Hanbali (baca: Hambali).

Bismillahnya di sirr kan, qunutnya nazilah, sholat 2 rokaat duduknya iftisrof (baca: iftiros), itu hambali. Jelas sampai disini?

Kemudian menyebarnya dimana? Di wilayah Teluk .  Saudi dengan mekkah dan madinah nya, jadi kalau ada teman teman dari mekah atau madinah itu mesti hambali. Dari Mekkah Ummul Quro, Hambali. Dari Abu Dhabi, Qothor, itu Hanbali.

Sekarang Indonesia. Pilih yang mana?. Ah. Disini berakhir kajian kita. Orang tua kita tuh luar biasa. “Kejar semua” katanya. Masya Allah.

Ada yang ke pakistan, ada yang ke afrika utara, ada yang ke Mesir dgn al Azhar nya, ada yg ke libya dgn Jami’iyah Da’wah  Islamiyah nya, ada yang ke Tunisia dgn Ezzituna nya, ada yang ke Syria belajar Asy Syafi’iyyah, ada yang ke Mekkah, ada yang ke Madinah, semua dipelajari oleh orang tua kita.

Supaya saat pulang ke tempat masing masing, semua ilmu ilmu ini bisa diterapkan di kehidupan kita. Cuman umunya ketika pulang, nggak bisa diterangkan semuanya dulu. Pasti apa yang dipelajari itu yang akan disampaikan. Maka misal orang bandung belajarnya ke pakistan, orang jakarta belajarnya ke mesir, orang padang belajarnya misalkan ke libya, sementara misalnya orang surabaya belajarnya ke madinah. Pulang ke tempat masing masing mengajarkan yang diajarkan.

mensikapi perbedaan madzhab

Yang dari madinah bismillahnya di sirr kan. Yang dari mesir di jahr kan. Yang dari pakistan nggak dibaca sama sekali. Yang jadi persoalan, muridnya (ber) main main ( berkunjung ke tempat lain ). Main dari surabaya ke jakarta. Begitu main di imami oleh orang jakarta.

Bismillahirrohmaanirrohiim…Hmm bid’ah ini! Disitu mulai muncul masalah.

Nah teman teman sekalian, sebetulnya sesungguhnya yang ada itu kedalaman kita untuk mempelajari semua itu. Jadi kita boleh memilih diantara yang ada ini  sebagai kenyamanan untuk kita tunaikan. Sama sama sholat dengan manhaj yang sama dgn jalan yang sama. Tapi kalau di luar ketentuan Al Qur-an dan sunnah dgn konsep , jadi  itu yang kita tinggalkan. Itu bukan sholat. Itu bukan yang benar. Jadi kalau masih dalam frame ini, itu saudara. Jadi tidak usah mempersoalkan satu dengan yang lainnya.

Jangan karena satu di jahr kan satu di sirr kan lantas anda, Masya Allah, saya bingung ya, terus terang saya, bingung memahaminya, Zaman nabi tidak terjadi, Zaman sahabat tidak, Zaman tabi’in tidak,  Zaman ulama pun tidak ( yang sholeh sholeh), kenapa gara gara yang satu Bismillah di jahr kan yang satu di sirr kan, lantas meninggalkan masjidnya? Jadi nggak saling sapa? Jadi nggak saling kenal?

Tadinya ia berkenalan baik, saling silaturohim tiba tiba sekarang tidak bertegur sapa? Nah ini yang penting untuk dihadapkan!

Anda ini mau kembali kepada Alqur-an dan sunnah apa mau pada bikin kelompok? Ya kecuali kalau mau pada bikin kelompok. Silahkan saja! Cuman itu tidak baik.

Kalau nggak sama dengan kelompok saya berarti bukan kelompok salaf. Bukan! Bukan karena salafnya, tapi anda yang tidak paham!  Jadi jangan sampai perbedaan perbedaan yang satu manhaj ini menjadikan silaturohim diantara kita termasuk pergaulan kita menjadi tidak menentu! Itu nggak bagus! Nggak baik itu.

Keprihatinan ustad adi hidayat soal peredaan yang dibikin salah salahan

Saya beberap hari hari kebelakang ini sering kali mendengarkan kalimat kalimat yang sebetulnya tidak perlu ditampakkan. Bukan hanya pada level murid murid tetapi guru gurunya juga harus kembali ke silaturohim. Kenapa sih nggak bisa kumpul lagi bersama sama? Kita tinggal ditempat yang sama, ayo kita ngobrol nih!

Anda mau nyampaikan apa? Kalau umat ada begini butuh masalah nih? Ooow masalahnya seperti ini ayo sampaikan dengan teduh.  Tapi solusinya begini begini begini. Kalau berbeda, anda sampaikan . Kita pilih yang ini ya? Cuman kalo teman pilih yang ini dalilnya seperti  ini. Maka akan lebih indah dibandingkan dengan mengatakan”Cuma ini yang benar. Yang lain salah”. Itu masalah nantinya.

Saya pertama datang ke Indonesia sampai  bekasi  itu disebut ustadz bid’ah! Karena ngajarnya pakai batik. Rosul ngajar pakai jubah katanya. Ini luar biasa kan? Tapi kita paham bahwa maaf kalimat itu disampaikan maaf bukan karena salah karena belum paham. Yang belum paham ini bukan dimarahi, jadi kalau ada orang orang seperti itupun respon yang lain pun jangan saling marah. Respon kita saling menyatukan gitu. O ini mungkin belum paham, yang belum paham dipahamkan. Diberitahu dengan kelembutan.  Jauhi perpecahan yang tidak penting dilakukan. Termasuk jauhi celaan celaan yang tidak bermanfaat.

Tapi kita harus sepakat. Tuntunan kita Al-Qur an dan As sunnah. Ada “different” dari yang ini kita kerjakan. Keluar dari ini kita tinggalkan.

ormas bukan madzhab

Kami dulu di Libya, itu mengajar  salah satu murid saya ketika presentasi  kami kasih tugas saat pulang ke indonesia. Kamu pergi kemana? Kedaerah ini. Bagaimana responnya? Pertama kali saya bertanya ustadz,

“disini islamnya berapa persen?”

“95% pak.Alhamdulillah ”

“Yang 5 % nya apa?”

“Muhammadiyah pak”

Ada sesuatu yang harus di edukasi didalam masyarakat, karena belum tahu gitu kan? Kan gak ada hubungan dengan ormas.  

Mohon maaf. Imam Al Bukhari itu bukan NU. Karena NU belum ada pas jaman itu. Kalau qunut berarti NU, imam syafi’ie berarti NU. Imam ahmad Muhammadiyah. Gak ada hubungannya!

Untuk memahami semua ini paham dalam bahasa arap disebut fiqih. Kalau ada tuntunan yang berbeda tapi ujungnya sama disebut dengan ikhtilaf. Ikhtilaf itu perbedaan perbedaan yang melahirkan kemudahan dalam prakteknya. Maka ilmunya disebut dengan fiqih ikhtilaf.

yohan Indrawijaya

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Post comment