PAMONG AGAMA

Oleh: Jon Ad-Dabruz, tokoh Muda mudi di Semprulnesia

MANDAT DARI PAK LURAH

Aku kaget. Saat hujan deras, tiba-tiba ada utusan pak Lurah mendatangiku dengan tergopoh-gopoh.Bajunya basah semua. Kok buru-buru sekali?

“Ada apa pak?” tanyaku heran
“Pak JON ada mandat dari Pak Lurah”
“Mandat? apa-an tuh?”
“Iya. Pak Jon diminta siap – siap ke Balai Desa untuk pengarahan dari Pak Lurah dan pak Wakil Lurah soal jabatan baru pak JON”
“Heloh…jabatan apa’an ya?” tanyaku makin heran
“Jadi Pamong Urusan Agama di desa kita” kata utusan

Pamong urusan agama? waduh…
Bagiku, agama adalah barang penting. Kritis. Kebetulan di desa saya berprinsip bahwa Desa ini memakai dasar Ketuhanan Yang Maha Esa. Semua warga diwajibkan memiliki agama. Semua warga berhak sama dalam urusan kebebasan beribadah. Semua warga berhak mendapatkan perlakuan yang sama dimata Hukum, baik hukum desa maupun hukum agama.

Inna lilaahi wa inna ilaihi rooji’un. Ternyata yang kutakutkan datang juga. Rupanya pak Lurah menaruh perhatian kepadaku soal sepak terjangku selama ini di desa NEGOROPARI, tempatku saat ini.

UNITY IN DIVERSITY

Aku memang senang berorganisasi. Kelompok yang sedang aku bina adalah Gerakan Muda-mudi Penolong Desa. Gerakan ini bertujuan untuk meningkatkan rasa bangga menjadi warga desa NEGOROPARI, saling membantu dan tolong-menolong warga dalam kerangka UNITY IN DIVERSITY ( bersatu dalam perbedaan )dan mempromosikan “Desa NEGOROPARI jangan berpecah belah “.

Menjadi Pamong urusan Agama bagiku sangat berat. Warga di desa ini yang berpenduduk 2.670 jiwa ini sangat beragam. Ada yang Islam,ada yang Kristen, ada yang Katolik, ada yang Hindu, ada yang Budha, ada yang Kejawen, ada yang aliran Kepercayaan. semua ini harus ku akomodir. Alamak. Berat nih…

Berkata urusan agama, berarti bukan hanya Islam. Yang kutahu, pamong urusan agama di Desa NEGOROPARI ini harus bisa mengayomi seluruh umat.

PERSENTASE WARGA DESA NEGOROPARI

Didesaku, penganut Islam sekitar 2323 orang ( 87%), Kristen 187 orang (7%), Katolik 80 orang (3%), Hindu 27 orang (1%), dan sisanya adalah budha, kejawen, aliran kepercayaan lain.

Agama yang dianut warga juga beragam. RT1 hampir semua beragama Islam, tapi RT33 dan 34 hampir semua beragama Kristen.RT 18 sampai RT 32 hampir imbang antara Islam dan Kristen. Itulah kenapa kuanggap ini lumayan berat dan repot. Sangat beragam.

RW1,RW2 dan RW3 berbatasan dengan jembatan kecil. Selebihnya berbatasan dengan persawahan. Hampir setiap RW berbatan dengan persawahan. karena itu desa ini lebih terkenal dengan Deso sawahan, karena setiap perumahan penduduk seperti bergerombol-gerombol, dipisahkan oleh sawah dan sungai.

Itulah kenapa banyak orang-orang jahat yang ingin berusaha mendirikan desa sendiri karena dianggap sangat strategis dan potensial dalam sumberdaya. Setiap ada yang menyeberangi jembatan maupun menyeberangi sawah, maka akan kelihatan ia dari mana atau orang dusun/RW mana.

Bahkan pemerintah desa jauh disebelah sana rupanya ingin berupaya menjadikan desaku kacau seperti desa di daerah GURUN WEDHI, jauh di brang kulon sana. Desa mereka sangat besar dan konon lebih hebat dari desaku. Mereka ingin menguasai hasil bumi didesaku dengan cara- cara yang licik dan kejam. Ada cerita 1-2 orang warga yang ketahuan disusupi pikiran jahat desa sebelah, untungnya pak Lurah segera bertindak dengan memasukkan mereka di pondok khusus rehabilitasi Faham Buruk.

DESAKU BERAGAM WARGA BERAGAMA

Aku beragama islam.Aku tinggal di RT15 RW2. Pak Lurah juga beragama Islam. Beliau dari RT14 RW2 . Kalau wakil pak lurah malah seorang ustad dari RT 11 RW2. Agamaku mayoritas di desa ini.

Agama Islam mayoritas di RW1 dan RW2. Akan tetapi khusus di RT17 RW3 hampir semua penduduknya beragama Hindu.

Warga yang beragam kristen yang banyak di RT2 RW1 dan Di RT34 RW7 paling ujung desa. Warga yang beragama Katolik menyebar di RT19,RT31 hingga RT34.

Desaku sangat beragam. Hampir semua menjalankan agamanya dengan baik. Sangking baiknya, sampai-sampai ada sekitar 70 orang warga yang dikenal sangat religius tapi suka menghina warga beragama yang lainnya. Aku lupa nama kelompoknya tapi yang kuingat adalah mereka sangat ingin menjadikan desa ini adalah desa yang Islami. Ada juga sebagian kecil berpendapat harusnya desa ini jadi Desa Islam Rohmatan Lil Alamin saja. Wah.. perlu diskusi panjang nih. Ini PR bagiku.

Kelompok ini harus dicermati, disikapi dengan hati-hati dan selalu diajak berdialog secara baik – baik demi kebaikan kelangsungan kehidupan beragama di desaku. Aku harus tetap menjadikan desa ini desa damai, desa yang penuh kasih dan sayang antar umat beragama.

Didesaku, penganut Islam adalah terbanyak dari desa-desa sebelah. Mungkin ini karena perjuangan leluhur yang telah masuk ke desa ini sekitar 500 tahun yang lalu dan perlahan – lahan mendapatkan simpati warga. Dulu sekitar abad 14 desaku terkenal dengan nama Wilwa Legi. Wilwa adalah nama sebuah buah-buahan enak yang sudah punah.

Berarti aku harus merawat umat beragama di desa ini mulai dari mereka bangun tidur hingga tidur lagi sebanyak 2670 nyawa ini.

BERATNYA MENJADI MENTERI AGAMA DI NEGERI SEBELAH

Hmm …aku membayangkan bagaimana beratnya menjadi menteri agama di negara sebelah, INDONESIA. Penduduknya sangat banyak, 100 ribu kali dari jumlah penduduk desaku.Berarti aku mengurus 1 orang disini sama dengan mengurus 100 ribu orang di Indonesia.

Subhanalloh…angka yang sangat luwar biyasa. Sanggupkah aku? Amanahkah aku? Sementara ilmu agama yang kupunya cuman belajar sebentar di kyai Muklisin di ponpes Indonesia sana dan lumayan lama di ustad Sahid di Semprulnesia. Yang kuhapal cuman do’a ROBANA ATINA saja. Baca Al qur-an saja belepotan. Ya Alloh tolonglah saya….

Ah. Semua kukembalikan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, aku harus bisa merawat urusan ibadah warga desa ini. Mosok kalah sama menteri agama yang baru di lantik di negeri sebelah, Indonesia: GUS YAQUT. Yang bersamaan dengan aku menjabat menteri ( kalau aku jadi pamong )urusan agama. Kalau beliau di Indonesia, aku di SEMPRULNESIA.

Wassalam.

Penulis Kontributor

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Post comment